Operasi Pasar Tekan Inflasi Cirebon

Penulis: Rini Kustiasih | Editor: Nasru Alam Aziz
KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Ilustrasi beras

CIREBON, KOMPAS.com — Operasi pasar bahan kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional di Kota Cirebon, Jawa Barat, yang dilakukan pada akhir 2010, berhasil menekan angka inflasi di Kota Udang itu pada Januari 2011. Pada Desember 2010, inflasi di Cirebon masih mencapai 0,50 persen dan masuk dalam lima daerah dengan inflasi tertinggi di Indonesia. Angka itu pada Januari 2011 turun menjadi 0,12 persen.

Menurut Ketua Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID), Burhanudin Manap, yang juga Sekretaris Kota Cirebon, angka inflasi itu adalah yang terendah selama lima tahun terakhir. “Selama ini, Cirebon dikenal sebagai kota kecil dengan inflasi yang setara  dengan kota-kota besar di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

“Harga beras yang stabil membuat angka inflasi di Kota Cirebon bisa ditekan. Perubahan harga beras sekecil apa pun akan berpengaruh pada penghitungan inflasi, sebab konsumsi beras adalah yang tertinggi,” kata Burhanudin, Kamis (10/2/2011) di Cirebon.

Dalam masa cuaca ekstrem seperti sekarang, menurut Burhanudin, angka inflasi bisa berpotensi kembali naik jika produksi beras turun dan harga tidak stabil di pasaran. Kenaikan ini akan makin menyulitkan warga Cirebon yang separuhnya tergolong warga miskin. Dari total penduduk 296.000 jiwa di Cirebon, 140.000 jiwa di antaranya adalah penerima beras miskin (raskin).

Salah satu hal yang membuat harga beras stabil di Cirebon hingga akhir tahun lalu ialah adanya operasi murah beras di pasar-pasar tradisional. Bulog Sub Divisi Regional Cirebon pada Desember 2010 menggelontorkan 173.745 ton beras. Harga eceran tertinggi beras saat itu ialah Rp 6.100 per kg, dan kemudian turun menjadi Rp 5.600 per kg setelah operasi pasar.

Deputi Pemimpin Bank Indonesia Cirebon Bidang Ekonomi Moneter Bambang Mukti Riyadi menambahkan, angka inflasi Cirebon yang cenderung tinggi, bahkan mencapai 6,7 persen pada 2010, dipicu oleh karakteristik Cirebon yang menjadi pusat jasa dan perdagangan di kawasan Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan. Harga berbagai bahan kebutuhan pokok di luar Kota Cirebon amat berpengaruh pada harga di kota itu lantaran Cirebon bukanlah daerah penghasil utama.

“Banyak pendatang ke Kota Cirebon yang juga membeli barang-barang di sini. Pasar kemudian sering kali menyesuaikan harga dengan kemampuan pendatang itu, sekalipun stok barang melimpah dan tidak ada biaya distribusi tambahan,” kata Bambang.

Untuk mempertahankan inflasi agar tetap rendah, pemerintah setempat berencana mendistribusikan raskin dan melakukan operasi pasar murah tepat waktu. Besaran operasi pasar dan waktunya akan disesuaikan dengan kebutuhan, kata Burhanudin.

http://regional.kompas.com/read/2011/02/10/20404289/Operasi.Pasar.Tekan.Inflasi.Cirebon

Pos ini dipublikasikan di Berita, Hotnews dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s