KETIKA GAJIH TAK LAGI BISA DIHARAPKAN

Malam itu Karmin masih duduk diberanda rumah, duduk bersandar pada kursi bambu dan sebatang rokok menempel dibibirnya. Sejak menerima amplop gajih yang penuh dengan nota dan cicilan bank, Karmin tak lagi ceria seperti dahulu. Pikirannya menerawang jauh, menembus langit-langit beranda rumahnya hingga nun jauh ke awang-awang.
“ Sejak saat ini kamu tidak boleh lagi mengutang ke kas Bendahara, karena sisa gajih kamu sudah tak bisa lagi untuk membayar utang-utangmu” Ucapan bernada melecehkan keluar dari mulut Bendahara kantornya, membuat Karmin seperti putus asa bahkan terasa sesak memenuhi rongga dadanya.
Memang biasanya Karmin selalu ngutang uang ketika oranglain bergembira menerima gaji bulanan, Karmin kini tak lagi bisa ngutang karena memang hutangnya sudah terlalu banyak. Pulang membawa amplop bukan berisi uang tapi penuh dengan bon-bon serta cicilan bank. Matanya nampak berurai airmata, Karmin seorang lelaki tua yang 2 tahun lagi pensiun, nampak sempoyongan keluar dari ruangan Bendahara kantornya.
Masih untung isterinya selalu sabar menerima keadaan suaminya, selalu memberi petuah agar suaminya tetap tegar.
“ Jangan Akang permasalahkan mereka, mereka benar karena Gajih Akang sudah tak bisa lagi dipotong. Bersabarlah siapa tahu besok atau lusa ada orang baik yang memberi Akang objekan, bukankah keahlian Akang banyak yang membutuhkan” ujar isterinya penuh kasihsayang.
Mendengar itu Karmin tambah bersedih, linangan airmata tak lagi bisa dibendungnya. Karmin merangkul isterinya yang sangat dicintainya, dalam keadaan seperti ini hanya isterinya yang bisa menenangkan pikirannya yang kacau balau.
Sampai saatnya Karmin duduk diberanda rumah, hatinya agak sedikit tenang. Namun bayangan dan ucapan Bendahara itu selalu saja mengusik hatinya. Rasa sakit hati dan sedih berbaur menjadi satu, membuat Karmin merasa sesak didada. Inginnya dia “ngontrog” kerumah Bendahara itu untuk membuat perhitungan tentang ucapan yang menyakitkan. Tetapi demi melihat saran isterinya, Karmin mengurungkan niatnya. Tapi kenapa selalu saja hati ini ga bisa tenang setenang tenangnya, bila mengingat perlakukan Bendahara Kantornya.
Sepuluh tahun yang lalu……..
Karmin didatangi seorang lelaki lebih muda dan sangat santun. Lelaki itu meminta kesediaan Karmin untuk mengontrakan kamar untuk tempat kosnya. Sedikit memaksa ketika menginginkan kamar depan rumah Karmin dikontrak 2 tahun lamanya, Karmin akhirnya setuju asal hanya dua tahun dan takkan diperpanjang lagi.
Suroso nama lelaki itu , usianya lima tahun lebih muda dari Karmin. Awalnya di pendatang dari Jawa Tengah yang mencoba bekerja di perusahaan Swasta di kota dimana Karmin dan isterinya tinggal. Tahun pertama ketika Suroso ngontrak kamar dirumah Karmin, hubungan akrab keduanya sangat terjalin demikian cepat. Karmin bahkan mengganggap Suroso sebagai adiknya sendiri. Hingga suatu hari Suroso meminjam nama Karmin yang kebetulan Pegawai Negeri Sipil untuk meminjam uang dari sebuah Bank, bahkan persyaratan yang diminta Bank menggunakan Surat-surat resmi kepunyaan Karmin.
Tidak tanggung-tanggung Suroso meminjam uang sebesar enampuluh juta rupiah, dengan jaminan gajih Karmin yang akan dipotong tiap bulan selama lima tahun sebanyak kurang lebih satu juta sembilan ratus rupiah. Herannya Karmin percaya saja, seperti Kerbau dicucuk hidung.
Bulan pertama hingga satu tahun ,cicilan lancar dari Suroso bahkan selalu memberi Karmin tambahan seratus ribu rupiah. Petakapun terjadi kemudian, disaat cicilan pertama ditahun kedua, Suroso “Menghilang” entah kemana. Kamar kosnya nampak kosong tak ada selembar pakaianpun tertinggal, karena sejak setahun menghuni Suroso tak banyak membawa pakaian. Selalu keluar kota yang katanya tugas dari kantor, sampai akhirnya Suroso pergi tanpa pamit.
Sejak itulah Karmin seperti orang linglung, gajih yang tidak seberapa besar terpotong oleh cicilan bank yang bukan disebabkan piutang pribadinya. Setiap bulan Karmin selalu nyari penutup lobang utangnya, karena gajih tinggal separo. Akhirnya Karmin mulai gali lubang tutup lubang, seolah tak pernah cukup, dalam waktu satu tahun kemudian hutangnya malah semakin menumpuk.
Masih untung Karmin memiliki keahlian “melukis kaca”, hampir setiap bulan ada pesanan masuk. Lumayan buat menambah-nambah pendapatan.
“Alhamdulillah ya kang, ada tambahan buat uang sekolah anak semata wayang kita. Tahun ini kan mau masuk kuliah, katanya ingin kuliahnya di Bandung” Isterinya mengucapkan rasa syukur setiap suaminya member uang hasil melukis kaca. Karmin jadi terenyuh melihat kesabaran isterinya, kesabaran itulah yang membuat Karmin sedikit melupakan Suroso yang menipunya.
Hingga akhirnya , Sunarti, anak semata wayangnya diterima di Perguruan Tinggi Negeri di Bandung. Kampusnya yang ada di Gegerkalong Bandung menjadi tempat mencari ilmu selama kurang lebih empat tahun setengah kedepan. Karmin kembali menemui usaha buntu mendapatkan pinjaman uang sebanyak duapuluhjuta rupiah untuk uang pangkal dan sumbangan biaya gedung perguruan tinggi tersebut. Karena Karmin tak ingin anaknya kecewa, maka dia gadaikan SK lagi ke Koperasi Simpan Pinjam. Masih untnung kebutuhan untuk uang kuliah anaknya bisa nyambung dengan hasil pinjaman, namun sejak itu hutangnya makin menumpuk semakin besar saja.
Terakhir Karmin datang menemui Bendahara kantornya dengan memperlihatkan tagihan uang semester anaknya, maksudnya mau meninjam uang sebanyak dua juta rupiah. Tapi apa dinyana bukan uang yang didapat malah hardikan dan cemoohan dari Sang Bendahara , Karmin sakit hati saat pulang meninggalkan kantorpun seperti “teu puguh rarasaan”. Karmin yang malang pulang membawa kekesalan.
“ Pak…..kalau minggu ini belum bayar, Narti ga boleh kuliah…..” suara anaknya dari bandung melalui HP jadul milik Karmin. Karmin memberikan jawaban sedang dan akan terus diusahakan kepada putri tunggalnya. Padahal setelah ditelepon anaknya, Karmin seperti mau pingsan. Dadanya terasa sesak, denyut jantungnya berdegup kencang, kepalanya pusing tujuh keliling dan matanya berkunang-kunang.
Sepeda motor Honda “Prima” keluaran tahun delapan puluh limaan dikebutnya kencang-kencang menuju rumahnya. Keruan saja beberapa tukang becak segera menghindar ketimbang diterjang motor yang dikendarai Karmin, bahkan ada yang sempat terjungkal karena kepeleset masuk selokan. Karmin tak perduli motornya melesat bagai kuda lagi berahi, membuat isterinya sempat kaget bukan alang kepalang.
“ Ya Allah Ya Robbi….Akaaaaaang …..hati atuh naik motor teh ? “
Karmin seperti tak memperdulikan teriakan isterinya yang merasa khawatir dan kaget, setelah motornya diparkir dihalaman rumah Karmin langsung menuju kamar mandi untuk membasuh kepalanya yang terasa panas nian.
Setelah agak reda, Karmin menceritakan semuanya kepada isterinya. Nampak keduanya sangat bersedih hati, keinginan mengirim uang buat anak tunggalnya kini pupus sudah. Karmin sudah tak ada lagi jalan keluar, seolah telah buntu semuanya………………….
Malam itu Karmin tak bisa tidur, hingga tengah malam masih duduk bersandar dikursi bambunya. Sementara isterinya sudah lama tertidur dikamarnya. Karmin masih terganggu dengan pikiran yang semakin menyiksa, rasa dendam kepada Suroso yang menipunya, rasa kesal terhadap Bendahara kantornya. Berkecamuk memenuhi rongga-rongga benaknya. Berkali-kali Karmin menggeram dan memukul-mukul kursi yang didudukinya. Angin malam bercampur gerimis malam menemani Karmin melewati malam yang terasa panjang. Tak ada yang tahu Karmin duduk semalaman diberanda rumah dalam keremangan malam hingga embun dinihari membashi raut wajah laki-laki tua yang malang.
……………………………….
Matahari pagi menyinari alam dengan sinarnya yang hangat. Tetes embun pagi seperti enggan menatap sinar mentari pagi, member nuansa lain yang menghantarkan perpisahan Sang malam dan Sang Siang. Embun itupun luruh jatuh kebumi yang sebagian masih bergelayut diujung dedaunan. Kokok ayam jantan sudah lama berlalu seiring keluarnya mentari pagihari. Disitu diatas kursi bambu, kumal dan berdebu, sesosok tubuh laki-laki tua tetap terlelap dalam tidurnya. Wajah laki-laki yang tak lain adalah Karmin, pucat pasi, mulutnya rapat menutup barisan giginya yang mulai banyak yang ompong. Bibirnya yang biasa berwarna hitam keciklatan, kini pucat tanpa warna. Matanya tertutup rapat meninggalkan genangan airmata yang tak sempat menetes. Tangannya mendekap dada, seperti orang yang sedang memeluk erat, pucat pasi mewarnai ujung jarinya. Badannya tergolek kaku, menekuk lutut seperti menahan dingin. Telapak kakinya berwarna pucat mengkerut seakan menahan sakit, tak ada denyut nadi yang menandakan kehidupan masih berada dalam raganya. Laki-laki tua yang malang….ternyata telah lama meninggal….dalam dekapan malam yang panjang…………
…………………………………….
Dua orang perempuan, Ibu dan anak, menangis di depan sebuah pusara bertanah merah. Sementara permukaan tanah merah itu masih menumpuk bunga rampai yang belum sempat layu karena memang masih baru disebarkan. Tangan kecil gadis manis mengusap-usap papan yang ditancapkan diujung pusara, bertuliskan nama “Karmin” ayah yang selama ini dicintaninya. Begitupun perempuan separuh baya yang berwajah lusuh yang tak henti meneteskan airmata, adalah isteri “Karmin” yang merasa berdosa tidak menemani suaminya pada malam itu. Rasa berdosa karena tertidur sejak sore, sementara suaminya tengah bergumul dengan kesdihan yang teramat dalam hingga menemui kematiannya. Dua perempuan , Ibu dan anak, menangisi pusara merah menyesali apa yang terjadi…..
Cirebon Awal Februari 2011.
Penulis,
Halimi,SE,MM.

Pos ini dipublikasikan di Artikelku, Tulisanku dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s