Manfaatkan Limbah Batu Bara

Pekerja Paving Block-DADANG SETIAWAN/GM

Pekerja Paving Block-DADANG SETIAWAN/GM

PARA pengusaha paving block, conblock, dan buis beton, Desa Nanjung, Kec. Margaasih, Kab. Bandung, mungkin satu-satunya home industri di wilayah Kab. Bandung maupun Jawa Barat yang mampun mengolah limbah berbahaya menjadi bermanfaat. Tidak tanggung, para pengusaha yang tergabung dalam gabungan pengusaha home industri (GPHI) Margaasih ini, memegang izin dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia (KLH).

Meski terbilang sukses, keberhasilan para pengusaha asli ini dalam perjalanannya tidak semulus yang dibayangkan. Apalagi, harus meyakinkan pemerintah bahwa mereka bisa memanfaatkan limbah menjadi produk yang berguna dan mampu bersaing dengan hasil produk serupa yang dihasilkan pabrikan besar.

Menurut Ketua GPHI Margaasih Kab. Bandung, H. Dede Supardi didampingi Bendahara GPHI, Agus Samsu Wahid, kepada “GM”, Selasa (11/1), awalnya masyarakat Nanjung, Kec. Margaasih hanya membuat tegel yang cukup dikenal sehingga pemasarannya menguasai Jawa Barat-Banten.

Sayangnya, usaha tegel yang dirintis almarhum H. Hanafi dan H. Imam sejak tahun 1960 ini, sedikit demi sedikit tersingkir oleh tegel produksi pabrik. Akibatnya, banyak pengusaha yang tak mampu bertahan dan akhirnya gulung tikar.

“Kami pun beralih ke pembuatan paving block, conblock, dan buis beton. Ini kami lakukan karena tidak ingin melihat masyarakat Nanjung menganggur gara-gara usaha tegel gulung tikar,” katanya.

Upaya masyarakat mengalihkan produksinya ke paving block, conblock, dan buis beton ternyata tidak semanis usaha tegel. Apalagi, mereka menghadapi kendala seperti bahan baku pasir harganya mahal karena berkurangnya penambangan pasir. Untuk menanggulangi masalah tersebut, para pengusaha yang tergabung dalam GPHI melakukan berbagai upaya, di antaranya mengganti bahan baku pasir dengan limbah batu bara. Setelah dicoba mengolah limbah tersebut, ternyata hasilnya bagus dan konsumen bisa menerimanya.

Rupanya, meski sudah mendapatkan bahan baku alternatif, para pengusaha tetap menghadapi kendala. Salah satunya perizinan karena limbah batu bara merupakan limbah B3 yang pemanfaatannya memerlukan perizinan dari Kementerian LH. “Agar usaha ini dianggap legal karena saat itu belum memiliki izin pengolahan limbah, kami berusaha mengurus perizinannya. Bahkan, kita sampai datang langsung ke Kementerian LH untuk mendapatkan izinnya,” katanya.

Dengan melalui proses yang cukup panjang, lanjut Dede, sekitar bulan Maret 2010, izin dari Kementerian LH turun. “Akhirnya, kami mendapatkan izin dari Kementerian LH untuk mengolah limbah batu bara ini,” jelasnya sambil menambahkan, hingga kini pengusaha yang tergabung dalam GPHI berjumlah 50 orang.

Setelah mendapat izin tersebut, lanjut Dede, GPHI kini menggiring para pengusahanya untuk melangkah ke home industri profesional dengan cara meningkatkan kualitas dan kuantitas produk. Sayangnya, upaya yang dilakukan para pengusaha ini sedikit terbentur masalah yaitu bahan baku dan permodalan.

Menurut Dede, kurangnya bahan baku utama yaitu limbah batu bara karena pabrik yang menghasilkan limbah batu bara lebih memilih membuang limbahnya ke daerah Karawang daripada ke Margaasih. Dari 6.000 pabrik yang menghasilkan limbah batu bara di Kab. Bandung, Kota Cimahi dan Kab. Bandung Barat, baru 75 pabrik yang mengirim limbahnya ke Margaasih. (Dadang Setiawan/”GM”)**

Sumber dari http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?wartakode=20110113002005&idkolom=bisnis

Mesin Paving Block Margaasih Diminati Hingga ke Kalimantan
DADANG SETIAWAN/GM

DUA orang pekerja sedang membuat mesin pembuat paving block dan conblock di bengkel GPHI Margaasih, Kab. Bandung, belum lama ini.

MARGAASIH,(GM)-
Mesin produksi paving block dan con blcok yang diproduksi Gabungan Pengusaha Home Industri (GPHI) Margaasih, Kab. Bandung, diminati pengusaha daerah lain. Sejak pertama diproduksi pada 2003, kini mesin produksi paving block dan con block sudah menyebar luas.

Menurut Ketua GPHI Margaasih Kab. Bandung, H. Dede Supardi, didampingi Bendahara GPHI, Agus Samsu Wahid kepada “GM”, Minggu (16/1), awalnya GPHI membuat mesin ini untuk anggotanya saja sehingga bengkel dan peralatannya pun seadanya.

“Awalnya kita buat bengkel tujuannya hanya meringankan anggota yaitu kalau mesin rusak bisa diperbaiki di sini. Dengan begitu, akan meringankan biaya operasional. Coba kalau sedikit-sedikit kita ke bengkel lain, tentu biayanya mahal,” jelasnya

Menurut Dede, dalam membuat mesin pekerja GPHI yang kini ditangani dua orang ahli tidak ada yang khusus sekolah mesin. Para pekerja di bengkel mesin ini, hanya mempelajari mesin secara otodidak. “Tapi, hasilnya ternyata cukup bagus padahal peralatannya pun seadanya,” katanya.

Kini, mesin produk Margaasih tidak hanya tersebar di daerah-daerah Jawa Barat, tetapi sudah lintas pulau. Beberapa di antaranya dipesan perusahaan dari Kalimantan.

Menurut Dede, dengan banyaknya pesanan mesin pembuat paving block dan con block ini, kini pihaknya tengah mengembangkan teknologi mesin terbaru. Jika dulu perangkatnya masih manual, sejak 2005 mulai mengembangkan mesin dengan sistem hidrolik. “Untuk hidrolik memang biayanya lebih mahal dibandingkan dengan manual. Sekarang, kita sudah punya satu mesin,” katanya.

Dijelaskan Dede, untuk membuat paving block dan con block, biasanya pemesan menginginkan satu paket berupa mesin pencetak paving block, cetakan, dan mixer. “Untuk satu paket ini, harganya bervariasi antara Rp 75 juta-Rp 100 juta. Pemesan pun boleh pilih mau pakai besi baru atau besi bekas,” tambahnya.

Lebih lanjut Dede menuturkan, mesin yang dibuat GPHI, selama ini dibuat hanya bergantung pada pesanan. “Untuk berinvestasi di mesin cukup berat bagi para pengusaha home industri di sini karena biayanya mahal. Sekarang, jangankan untuk membuat mesin, memproduksi paving block, conblock, dan buis beton saja pengusaha kerepotan dalam permodalan,” ujarnya.

Menurut Dede, meski cukup kerepotan dalam permodalan, pihaknya tetap terus mempelajari teknologi mesin ini agar bisa meringankan pekerja berproduksi. “Ya, sambil jalan sambil belajar saja. Kita terus mencoba menciptakan mesin dengan menerapkan teknologi lain,” jelasnya. (B.97)**

Sumber dari http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?wartakode=20110117041755&idkolom=soreang

Pos ini dipublikasikan di Artikel, Bisnis, Peluang Usaha dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s