Sebenarnya Gaji PNS sudah cukup baik saat ini

Jika berpikir tentang “serba kekuarangan” itu tergantung dari sejauh mana kita memposisikan “kekurangan” itu. Kalau kita memposisikan pada “keinginan” maka seberapa besar gajipun tetap masih terasa kurang. Sebaliknya jika kita memposisikan pada “syukur bi nikmat” sekecil apapun gaji terasa cukup.

Banyak diantara kita yang tidak sadar bahwa kekurangan berawal dari keinginan kita sendiri yang terkadang tanpa kontrol. Selalu menajdi budak keinginan yang mempengaruhi pendapatan dari gaji setiap bulan. Coba saja contoh terkecil ini disimak, ketika kita memiliki sebuah motor dinas sebenarnya cukup untuk hal-hal kebutuhan transportasi kerja. Namun karena melihat kiri kanan banyak menggunakan kendaraan roda empat yang bukan mobil dinas, gangguan mulai datang merasuk melalui “keinginan” tersebut. Maka begitu mudahnya meminjam uang ke Bank dengan jaminan “SK terakhir” untuk mengambil mobil yang juga harus dibayar cicilan perbulan. Yang terjadi kemudian Gaji terganggu alias amblas dipotong sana sini, hal ini sebagai bencana awal untuk terus mencari peluang memenuhi “keinginan” lainnya.

Belum lagi “keinginan” untuk mengejar lubang pinjaman satu ke lubang pinjaman yang lain, istilah gali lubang tutup lubang sudah menjadi bagian dalam kehidupannya. Ada HP Blackberry  ingin membeli, ada Laptop baru ingin dibeli, ada barang-barang baru ingin dimiliki. Alhasil selalu dan selalu merasa serba “kekurangan” dan selalu menuntut dan berharap adanya kenaikan gaji serta memimpikan remunerasi yang masih berada di awang-awang.

Kalau sudah begini semua terasa sempit, gampang loyo, dan masih mending mau masuk kerja. Kan jadinya “merepotkan”. Maka semua akan terasa terbebani, gaji naik tiap tahun masih terasa kurang. Karena memang selalu untuk menutupi utang, selalu untuk menambal lubang. Nah kalau jatuhnya pada pinjaman uang yang bunganya mencekik leher, apa tidak blingsatan dikejar-kejar “Tukang Tagih” yang terkadang berlaku kurang etis. Akhirnya hidup jadi tidak tenang, kerja jadi kurang serius, berpikir kurang fokus dan semua terasa “kosong” tidak ada semangat.

Marilah kita bandingkan dengan orang yang selalu “syukur bi nikmat”, ketika gajih masih kecil dia bertahan untuk mengelola uang gajinya dengan pengeluaran seperlunya. Dia tidak pernah tergoda untuk “meminjam” sekalipun dia banyak kesempatan, boro-boro mau kredit mobil , dia lebih senang naik angkot jika pergi kemana-mana. Atau di lebih senang dengan motor dinasnya yang tidak mau diganti dengan motor dinas yang lebih baru. Hidupnya sederhana, Ibadahnya rajin, Kerjanya rajin, selalu “semangat” dalam menjalankan tugas. Nampak sehat dan bugar serta selalu rapih berpakaian walaupun bukan pakaian baru. Rumahnya juga sederhana, tetapi bersih dan sehat. senag bergaul , senang bersosialisasi dengan masyarakat sekitar, penyabar, santun dan hampir tidak pernah memperdebatkan sesuatu yang dianggap kurang penting. Tapi Masya Allah, otaknya pinter bener. Alqur’an sangat fasih, Koran berita terbaru sangat digemari, buku-buku sumber ilmu selalu menjadi santapan bacaannya. Ilmu teknologi tinggi digemarinya, internet,website,bisnis online,bahkan komputer sangat dia senangi. Benar-benar mendekati sempurna seluruh penampilannya, namun tetap dalam kesederhanaan dan hidup yang wajar.

Sosok seperti itu biasanya akan sangat bergembira ketika mendapat kenaikan gaji (walaupun hanya 15 %), menerima honor yang tidak seberapa ketika melaksanakan tugas dalam proyek yang diberikan temannya. Selalu dan selalu terucap dalam bibirnya ” Alhamdulillah, saya bersyukur atas nikmat ini “, membuat yang lain merasa bangga atas sikapnya ini. Jika menemui kesulitan, dia selalu khusyu berdoa, berdzikir dan wirid pada waktu ba’da sholat di kantor. Tangannya terkadang selalu menggerakan biji-biji tasbih, namun tetap tidak menggangu pekerjaannya yang selalu selesai tepat waktu bahkan selalu paling awal diantara yang lain.

Ya Allah…..andai saja semua teman, kerabat dan saudara kita selalu melakukan hal yang sama seperti diatas. Mungkin tak lagi ada yang bekerja ogah-ogahan, tak lagi ada yang loyo, tak ada lagi ada yang suka mudah tersinggung, yang gampang marah dan lain sebagainya. Mungkin juga takkan ada lagi yang “suka bermimpi” menginginkan sesuatu yang  sebenarnya tidak terlalu penting, mengobral obrolan tentang penghasilan kesemua orang. Jaman bisa saja berubah, namun jangan lupa untuk tetap dalam keyakinan kepada Yang Khalik. Bersabar adalah penting untuk menahan hawa nafsu “keinginan”, Bertaqwa adalah penting untuk mempertebal “keyakinan”, Bersyukur sangat penting untuk berterima kasih akan nikmat Illahi. Hidup sederhana bukan siksaan, tetapi hidup sederhana adalah solusi menahan “keinginan” hati yang bisa menyulitkan dikelak kemudian hari.

Demikian saja curahan hati ini, semoga bermanfaat bagi kita. Salam

Penulis : Halimi,SE,MM.

 

Pos ini dipublikasikan di Artikel, Curhatku, Motivasi, Tulisanku dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Sebenarnya Gaji PNS sudah cukup baik saat ini

  1. rsmedical berkata:

    Wis piye yen ngene iki..???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s