Antara PSSI, Liga Primer Indonesia (LPI) dan Liga Super Indonesia (LSI)

Saya sebagai seorang pecinta “Sepakbola Indonesia” pada awalnya sangat bingung dengan adanya pesaing-pesaing PSSI, namun setelah melihat latarbelakang permasalahannya, saya malah jadi “bersenang hati” . Kenapa tidak ? menurut hemat saya, adanya 3 (tiga) “perkoempoelan sepakbola indonesia” membuat banyak pilihan dan tentunya banyak tontonan yang menyegarkan. Satu bukti bakal dibuat “rame” dengan berbagai pertandingan sepak bola di negeri sendiri, jadi makin semangat untuk melihat mereka “unjuk kebolehan” bukan ? Perlu kita baca bersama beberapa artikel tentang PSSI, LPI dan LSI yang saya dapatkan dari beberapa artikel blog seperti dibawah ini :

SEJARAH PSSI, LSI DAN LPI :

Did You Know kali ini akan membahas sejarah-sejarah di persepakbolaan Tanah Air, Indonesia. Mulai dari induk dari cabang sepakbola PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia), LSI (Liga Super Indonesia), dan liga terbaru di Indonesia yang dikatakan ilegal oleh Ketum PSSI dan antek-anteknya, LPI (Liga Primer Indonesia).

1. PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia)

4 3 2009 naslogo pssi Sejarah PSSI, LSI dan LPI

PSSI didirikan oleh seorang insinyur sipil bernama Soeratin Sosrosoegondo, yang lulus di Jerman dan kembali ke Indonesia pada 1928.

Di Indonesia, dia bekerja di perusahaan Belanda di Yogyakarta dan menjadi orang pertama di Indonesia yang bekerja di sebuah perusahaan. Namun, kemudian ia mengundurkan diri dari perusahaan dan menjadi lebih aktif dalam gerakan revolusioner.

Sebagai manusia yang mencintai sepakbola, dia menyadari bahwa sepak bola dapat menjadi salah satu senjata untuk mengumpulkan orang-orang Indonesia dan mengusir penjajah Belanda keluar meninggalkan Indonesia.

Untuk mencapai misi itu, Soeratin banyak mengadakan pertemuan dengan para pemain sepak bola profesional Indonesia pada waktu itu, kebanyakan melalui kontak pribadi karena mereka ingin menghindari tentara Belanda.

Kemudian, pada pertemuan yang digelar di Jakarta dengan Soeri, Ketua Vetbalbond Indonesische Jakarta (VIJ), dan para pemain, mereka memutuskan untuk mendirikan sebuah organisasi sepak bola nasional.

Pada tanggal 19 April 1930, hampir semua organisasi non-nasional, seperti Voetbalbond Indonesische Jakarta (Jakarta), Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (Bandung), Persatuan Sepakbola Mataram (Yogyakarta), Madioensche Voetbal Bond (Madiun), Indonesische Voetbal Bond Magelang (Magelang ), Soerabajashe Indonesische Voetbal Bond (Surabaya), dan Vortenlandsche Voetbal Bond (Solo) yang dikumpulkan pada akhir pertemuan dan memutuskan untuk mendirikan Persatoean Sepakbola Seloeroeh Indonesia (Asosiasi Sepak Bola Indonesia atau PSSI) dengan Soeratin sebagai ketua.

Pada tahun awal terbentuknya PSSI, mereka menggunakan sepak bola sebagai metode untuk melawan kontrol dari penjajah Belanda dengan mengumpulkan semua pemain sepak bola yang kebanyakan adalah laki-laki. Nanti, karena PSSI menjadi lebih kuat.

Dalam 1936, NIVB berubah menjadi NIVU (Nederlandsh Indische Voetbal Unie) dan bekerjasama dengan Belanda.

Pada tahun 1938, dengan nama Hindia Belanda, NIVU mengirim tim ke Piala Dunia 1938. Namun, sebagian besar pemain berasal dari para pemain NIVU, bukan PSSI, walaupun terdapat 9 pemain Tionghoa / Pribumi. Akibatnya, Soeratin menyatakan protes dan ia mau diadakan pertandingan antara NIVU dan PSSI sebelum piala dunia.

Selain itu, ia juga kecewa karena bendera yang digunakan di piala dunia adalah bendera dari NIVU (Belanda). Soeratin kemudian membatalkan kesepakatan dengan NIVU dan Muhammad Rizki di dalam kongres PSSI 1939 di Solo.

Ketika tentara Jepang datang ke Indonesia, PSSI menjadi non aktif karena PSSI diklasifikasikan oleh jepang sebagai Tai Iku Kai dari organisasi atau asosiasi olahraga Jepang.

2. LSI (Liga Super Indonesia)

logo isl Sejarah PSSI, LSI dan LPI

Asal

Informasi lebih lanjut: Liga Super Indonesia 2008
Ide dari pelaksanaan sistem liga ini telah dikemukakan sejak tahun 2007 sebagai upaya mewujudkan profesionalisme dalam persepak-bolaan nasional. Alasan lainnya adalah karena format Liga Indonesia pada tahun 2007 yang kurang adil, berlangsung secara sistem setengah kompetisi. Sistem ini menyebabkan tingginya tingkat ketegangan pertandingan dan sangat berpotensi memicu kerusuhan. Alasan terakhir adalah karena terlalu banyak tim peserta (38 tim).

Pembentukan

LSI pertama kali diselenggarakan pada tahun 2008. Kompetisi ini dilaksanakan untuk mengikuti persyaratan FIFA yang menyatakan bahwa liga teratas dari suatu negara harus diikuti oleh paling sedikit 18 klub dan setiap klub diharapkan merupakan klub profesional tanpa dibantu dana subsidi Pemerintah APBD.

18 klub perdana

Pada awal LSI 2008 diadakan dengan menyeleksi sembilan tim teratas dari Divisi Utama Liga Indonesia 2007. Tim-tim tersebut adalah:

Wilayah Barat:

Sriwijaya FC Palembang
Persija Jakarta
PSPS Pekanbaru
Deltras Sidoarjo
Persib Bandung
Persela Lamongan
Semen Padang
Pelita Jaya Karawang
Wilayah Timur:
Persipura Jayapura
Persiwa Wamena
Persela Lamongan
Persisam Samarinda
Arema Indonesia
PSM Makassar
Persiba Balikpapan
Bontang FC
Persijap Jepara
Persema Malang
Persibo Bojonegoro

Tetapi setelah diverifikasi, beberapa klub mengundurkan diri dengan alasan kekurangan dana. Sebagai penggantinya dipilihlah klub Divisi Utama Liga Indonesia 2007 dengan syarat menempati posisi kalsemen tepat dibawah klub yang digantikan kemudian diverikasi kembali. Tim yang lolos verifikasi adalah:

Arema Indonesia
Persipura Jayapura
Persiba Balikpapan
Persib Bandung
Sriwijaya FC Palembang
Persija Jakarta
Persiwa Wamena
Persema Malang
Persela Lamongan
PSPS Pekanbaru
PSM Makassar
Persijap Jepara
Bontang FC
Persebaya Surabaya
Persisam Samarinda
Persik Kediri
Pelita Jaya Karawang
Persitara Jakarta Utara

3. LPI (Liga Primer Indonesia)

liga primer indonesia 264x300 Sejarah PSSI, LSI dan LPI

Liga Primer Indonesia (LPI) merupakan gagasan dari Gerakan Reformasi Sepakbola Nasional Indonesia (GRSNI) di Graha Jenggala, yang bertujuan untuk mengangkat terpuruknya kondisi sepakbola nasional. Terdapat 17 klub sepakbola profesional yang menyatakan kemauan mereka akan sebuah perubahan kondisi sepakbola nasional

Berdirinya LPI juga merupakan sebuah komitmen untuk peningkatan standar sepakbola, baik secara organisasi maupun keuangan. Demi mencapai kemandirian, konsorsium LPI memberikan bantuan modal awal kepada setiap klub peserta agar terlepas dari ketergantungan pada dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Sistem kompetisi LPI akan menerapkan sistem kompetisi penuh (double round robin) dimana setiap klub akan bermain di kandang dan tandang

DAFTAR KLUB PESERTA dan PELATIH LPI ( LIGA PRIMER INDONESIA )

1. Aceh United
Pelatih : Lionel Charbonnier (Perancis)

2. Bali De Vata
Pelatih : Willy Scheepers (Belanda)

3. Bandung FC
Pelatih : Nandar Iskandar

4. Batavia Union
Pelatih : Roberto Bianchi (Brasil)

5. Bogor Raya
Pelatih : John Arwandy

6. Cendrawasih Papua
Pelatih : Uwe Erkebrecher (Jerman)

7. Jakarta 1928
Pelatih : Bambang Nurdiansyah

8. Kabau Padang
Pelatih : Divaldo Alves (Portugal)

9. Ksatria XI Solo
Pelatih : Branko Babic (Serbia)

10. Makassar City
Pelatih : Michael Feichtenbeiner (Jerman)

11. Manado United
Pelatih : Muhammad Al Hadad

12. Medan Bintang
Pelatih : Rene Van Eck (Belanda)

13. Medan Chiefs
Pelatih : Jorg Steinebruner (Jerman)

14. Persebaya
Pelatih : Aji Santoso

15. Persema
Pelatih : Timo Scheuneman (Jerman)

16. Persibo
Pelatih : Sartono Anwar

17. Real Mataram
Pelatih : Jose Basualdo (Argentina)

18. Semarang United
Pelatih : Edy Paryono

19. Tangerang Wolves
Pelatih : Paulo Camargo (Brasil)

Diambil dari sumber aslinya http://vanmovic.com/sejarah-pssi-lsi-dan-lpi.html.

LIGA PRIMER INDONESIA (LPI) SEBUAH TAMPARAN KERAS UNTUK PSSI :

Wacana Liga Primer Indonesia (LPI) yang digagas oleh pengusaha Arifin Panigoro dan sejumlah pengusaha lainnya menjadi tamparan keras bagi pengurus PSSI yang dinilai tidak mampu menciptakan kompetisi sepak bola yang baik di Indonesia. Wacana dan rencana LPI ini tidak akan muncul seandainya kompetisi sepak bola di Indonesia baik itu Indonesia Super Liga (ISL), Divisi Utama dan kompetisi lainnya yang dikelola PSSI berjalan dengan baik, termasuk menciptakan kemandirian klub menjadi lebih profesional.

Melihat wacana Liga Primer Indonesia (LPI) yang kini bergulir hebat di media massa, saya pribadi sebagai pecinta sepak bola Indonesia memandang gerakan Arifin Cs ini sebagai gerakan yang bagus, terlepas jadi atau tidaknya LPI digelar ini menjadi pelajaran tersendiri bagi pengurus PSSI dan pengelola klub-klubprofesional di Indonesia, dimana selama ini faktanya memang belum benar-benar layak disebut profesional karena hampir 90 % klub di Indonesia masih bergantung pada uang rakyat alias APBD.

Dalam konsepnya, Liga Primer Indonesia (LPI) ingin agar klub pesertanya nanti mendapatkan keuntungan finasial dari kompetisi yang diikuti, seperti halnya klub-klub di Eropa yang mendapatkan keuntungan lebih dari sponsor dsb, hal yang tidak diberikan PSSI selama ini yang membuat klub masih bergantung pada APBD. Sebagai langkah awal, seperti yang saya baca, LPI akan memberikan kucuran dana awal untuk masing-masing klub yang mau bergabung dan berkompetisi di LPI sebesar Rp. 30 Milyar / klub.

Menanggapi makin panasnya wacana Liga Primer Indonesia (LPI), pihak PSSI bereaksi keras, bahkan sampai melayangkan ancaman jika ada klub yang membelot dari PSSI dan bergabung ke LPI maka PSSI akanmemberikan sanksi yakni mengeluarkan klub tersebut dari keanggotaanya di PSSI. Ancaman yang kemudian ditanggapi oleh pihak LPI dengan mengatakan, bahwa PSSI tidak bisa asal mengeluarkan tanpa melewati kongres. Jadi, mereka menekankan bahwa klub yang berkompetisi di LPI bisa juga sekaligus berkompetisi di Indonesia Super League (ISL), Liga Utama dan kompetisi PSSI lainnya. Diambil dari Sumber aslinya http://sepakbola.showbiznotes.net/liga-primer-indonesia-lpi-tamparan-keras-untuk-pssi/#comment-2333.

LPI – Dari Solo, Sejarah Kembali Diukir

Solo – Lebih dari enam dekade silam, kota Solo menjadi tempat berlangsungnya peristiwa bersejarah bagi olahraga Indonesia. Kini Kota Bengawan siap mengulang hal tersebut.

September 1948, kota Solo menjadi tuan rumah gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) edisi pertama. Di balik gelaran olahraga itu, juga ada sebuah misi untuk menunjukkan bahwa Indonesia masih tetap eksis, masih tetap ada meski ketika itu masih terus berada di bawah ancaman Belanda.

Sabtu (8/1/2011) atau lebih dari enam dekade setelah PON I, sebuah sejarah dalam bidang olahraga siap kembali diukir dari kota Solo. Sore nanti Liga Primer Indonesia akan dimulai dan ditandai dengan laga antara tuan rumah Solo FC kontra Persema Malang.

“Laga besok merupakan era baru. Kompetisi baru dihadirkan untuk membenahi Indonesia. Ini momentum sepakbola Indonesia menuju pro,” kata CEO Solo FC Kesit B. Handoyo dalam jumpa pers jelang laga perdana LPI di Hotel Novotel, Solo, Jumat (7/1/2011) sore WIB.

Kesit mengatakan bahwa faktor sejarah menjadi salah satu pertimbangan pemilihan Solo sebagai tuan rumah laga perdana LPI, selain soal fasilitas dan juga publik di kota Bengawan ini.

“Di waktu lalu Solo pernah menjadi saksi sejarah PON I. Presidennya Soekarno juga tendang bola di sini (PON I). Kota ini memiliki history, kadang sesuatu yang lahir dari sini bisa menjadi besar. Mudah-mudahan dengan ridho yang di atas LPI bisa menjadi besar. Tujuan kita hanya agar bola Indonesia lebih baik, tidak ada yang lain,” kata dia.

Yang jelas laga antara Solo FC kontra Persema Malang esok bukan sekadar dari pertandingan sepakbola biasa. Ada sebuah sejarah, ada sebuah awal yang dimulai di sini.

“Pertandingan besok more than a game. Menandai era baru supaya sepakbola industri maju. Sudah sepantasnya klub sepakbola mendanai diri sendiri agar sepakbola Indonesia semakin maju,” tandas pelatih Persema Malang Timo Scheunemann. Diambil dari sumber aslinya http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6562632.

Barangkali cukup lengkap 3 artikel pilihan tentang PSSI, LSI dan LPI , semoga bermanfaat bagi para pecinta sepakbola tanah air dalam memahami setiap permasalahan yang terjadi dalam organisasi sepakbola kita. Mudah-mudahan tidak lama lagi Indonesia banyak melahirkan “bintang-bintang sepakbola profesional” untuk meneruskan jejak pendahulunya demi mengukir sejarah persepakbolaan di dunia International. Hidup Sepakbola ! Hidup Indonesia !

Penyunting : Halimi,SE,MM.

 

 

 

Pos ini dipublikasikan di Artikel dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s