BlackBerry dan Pornografi

Kontroversi ancaman pemblokiran akses Internet melalui BlackBerry telah melebar ke mana-mana. Isu yang mestinya hanya dibatasi sebagai soal kepatuhan terhadap peraturan pemerintah ini kemudian berkembang ke soal yang tidak relevan. Misalnya, soal nasionalisme dan penguasaan ekonomi oleh perusahaan asing.

Pelebaran isu mestinya tidak terjadi seandainya Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring lebih jernih menjelaskan pokok masalah. Publik bereaksi keras karena menduga kementerian ini akan memblokir total layanan BlackBerry jika Research in Motion, pabrik pembuat BlackBerry asal Kanada, tidak mencegah akses konten porno melalui perangkat buatannya.

Reaksi keras itu bisa dimaklumi. Jika alasannya konten porno, tak harus BlackBerry, perangkat telepon genggam lain pun dengan mudah bisa dipakai mengakses situs porno. Apalagi jumlah pengguna BlackBerry di Indonesia jauh lebih kecil dibanding pengguna telepon genggam lain. Data Asosiasi Telepon Seluler Indonesia menunjukkan, pada 2010, pengguna telepon genggam mencapai 180 juta orang. Dari angka itu, hanya 3 juta orang pengguna BlackBerry. Maka, memang tidak relevan membekap BlackBerry demi mencegah meluasnya pornografi.

Tidak relevannya alasan itu juga terlihat dari fakta bahwa akses ke situs-situs porno bisa dilakukan lewat berbagai cara. Sebagian cara itu memang mulai terbatas ketika para penyedia jasa Internet sejak Agustus lalu menjalankan perintah Kementerian Komunikasi untuk memblokir akses ke situs porno. Sayangnya, program penyaringan ini tidak efektif. Sampai sekarang pun, sebagian besar situs porno tetap bisa diakses dengan mudah.

Tentu saja itu terjadi bukan semata kesalahan penyedia jasa layanan Internet. Teknologi informasi memungkinkan pembatasan itu mudah dijebol. Salah satu caranya, dengan ”menipu” kode-kode pencegah akses. Misalnya menggunakan proxy (kode asal pengakses) palsu. Bahkan pengguna Internet tanpa keahlian komputer pun dengan mudah menerapkan cara ini.

Teknik ”menipu” seperti itu pula yang menyebabkan Proyek Nawala, yaitu proyek memfilter konten-konten tak sehat di Internet yang digagas PT Telkom, juga tidak ampuh. Cobalah ketikkan kata kunci ”blokir Proyek Nawala” di Google. Dalam sekejap, akan muncul ratusan link yang isinya membeberkan cara mengakali pembatasan itu.

Kita memaklumi upaya keras pemerintah mengatasi dampak buruk konten Internet tak sehat terhadap masyarakat. Namun mengatasi dampak negatif hanya dengan pendekatan teknologi tidak akan efektif. Yang harus mulai lebih serius dilakukan adalah memberi pendidikan berinternet sehat kepada publik.

Sosialisasi Internet sehat ini sebetulnya sudah dilakukan Kementerian Komunikasi sejak dua tahun lalu. Tapi entah mengapa, gaung kegiatan ini melemah. Padahal komunitas teknologi informasi swadaya yang mendukung gagasan ini cukup banyak. Bahkan beberapa kelompok, seperti ICT Watch, sangat aktif melakukan gerakan ini.

Kelompok-kelompok swadaya itulah yang mestinya mulai dirangkul Tifatul. Untuk itu, kementerian yang dipimpinnya memang perlu membersihkan diri dari citra sebagai ”musuh kebebasan berinternet”, agar mereka dengan senang hati bergabung.

Sumber dari http://www.tempointeraktif.com/hg/opiniKT/2011/01/12/krn.20110112.223757.id.html

Pos ini dipublikasikan di Berita, Hotnews dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s