SEMUANYA KARENA HARGA CABE

Cabe mejadi Trend Favorit yang dibicarakan di berbagai Mass media sejak akhir tahun hingga di awal tahun ini, mengapa bisa demikian ? kita simak saja satu persatu artikel tentang “Cabe”.

1. Harga Cabe naik 23,8% sejak awal Nopember

JAKARTA. Harga cabai terus beranjak naik di bulan November. Data Kementerian Perdagangan mencatat, harga cabai merah pada Jumat (18/11) sudah mencapai Rp 23.910 per kilogram (kg). Harga ini naik 23,18% dibanding 1 November lalu yang hanya Rp 19.410 per kg.

Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia Dadi Sudiana menjelaskan, harga cabai di tingkat eceran akan terus merangkak naik karena panen raya cabai baru akan terjadi Februari-Maret tahun depan. Maka, ia memprediksi, harga cabai merah akan bisa menembus Rp 30.000 per kg.

Di tingkat petani, harga cabai merah juga mengalami kenaikan. Pipin Arif Apilin, Ketua Gabungan Kelompok Tani Karang Sari, Ciamis, Jawa Barat mencatat, harga cabai merah keriting di tingkat petani pada bulan November sudah mencapai Rp 12.000-Rp 16.000 per kg. Padahal, di bulan September, harga cabai jenis ini cuma Rp 5.000- Rp 6.000 per kg.

Dadi mencatat, kenaikan harga cabai merah terjadi karena konsumen mulai melakukan pembelian setelah sempat menahan diri menyusul tingginya harga di bulan Juli lalu. Lima bulan lalu, harga cabai merah sempat berada di kisaran Rp 35.000-Rp 40.000 per kg. Nah, akibat konsumen menahan diri, harga si pedas sempat merosot.

Sementara itu, Pipin berpandangan, kenaikan harga cabai merah tidak lepas dari erupsi Gunung Merapi yang membuat produksi di Jawa Tengah merosot. Akibatnya, ketersediaan cabai di pasar tidak mampu mengimbangi kebutuhan. Padahal, cabai asal Magelang masuk hingga wilayah Jawa Barat. Dadi menghitung, bencana Merapi membuat pasokan cabai nasional turun hingga 10%.

Gangguan pasokan dari Magelang ini juga semakin menggenapi penurunan produksi cabai tahun 2010 yang diperkirakan mencapai 20%. Maka nya, jika ditotal penurunan pasokan cabai merah tahun ini mencapai 30% dibanding tahun lalu.

Penurunan produksi cabai tahun ini terjadi akibat gangguan cuaca ekstrem yang mengundang merebaknya hama dan penyakit. “Petani di Brebes, Banyuwangi, dan Jember banyak yang gagal panen karena tanamannya mati,” kata Pipin kepada KONTAN, Selasa (23/11).

Pipin bahkan mengaku, produktivitas tanaman cabai mereka turun hingga 50% dibanding tahun lalu. Jika setiap hari mereka memanen 8 ton cabai kini hanya mampu menghasilkan 4 ton.

http://industri.kontan.co.id/v2/read/industri/53062/Harga-cabai-naik-238-sejak-awal-November

2. Berita dari Ciamis

Kamis, 23/12/2010 – 05:20

CIAMIS, (PRLM).- Meletusnya Gunung Merapi Yogyakarta yang menghancurkan lahan pertanian, ternyata membawa berkah tersendiri bagi petani cabai di tatar Galuh Ciamis. Belakangan ini sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Cina, termasuk Jerman mulai melirik komoditi hasil pertanian tersebut dari Ciamis.

Hanya saja akibat terbatasnya produksi, Ciamis tidak mampu memenuhi seluruh pesanan. Saat ini maksimal produksi cabai yang dihasilkan dari Ciamis hanya sebanyak lima ton per minggu. Hasil tersebut tidak seluruhnya diekspor, akan tetapi juga untuk memenuhi permintaan pasar lokal dan regional Jawa Barat.

”Belakangan ini permintaan cabai merah dari luar negeri terus meningkat, akan tetapi kami hanya mampu memenuhi dua ton per dua hari. Mereka menyatakan seberapa pun produksinya siap menampung. Peluang memang terbuka lebar, akan tetapi kami juga masih tetap harus melayani permintaan lokal dan Jabar,” tutur Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Ciamis, Endang Supardi.

Dia mengatakan, sejak Gunung Merapi meletus, kawasan pertanian yang selama ini menjadi sentra produksi cabai Yogyakarta, di Kabupaten Sleman dan sekitarnya hancur akibat tertutup abu vulkanik. Keadaan tersebut memaksa para pengimpor cabai mencari daerah penghasil cabai yang baru. ”Ternyata mereka mulai melirik Ciamis. Mereka mengatakan seberapapun banyaknya, siap menerima. Selain itu, kami juga tidak mampu memenuhi permintaan sejumlah industri nasional yang banyak membutuhkan cabai,” katanya.

Dikatakan Endang, sebagian permintaan eksportir adalah jenis cabe merah TW, cabai Hot Beuty, Hot Chili. Scara fisik ukuran cabai tersebut lebih besar apabila dibandingkan dengan cabai lokal. Untuk cabai jenis Tanjung dan lokal kurang diminati. ”Soal harga memang jauh lebih mahal apabila dijual di daerah. Naiknya harga itu juga disebabkan karena biaya trasportasi. Namun demikian masih lebih tinggi apabila dibandingkan dengan harga lokal,” tambahnya.

Untuk mengimbangi semakin banyaknya permintaan cabai, kata Endang, perlu ada perluasan lahan untuk menanam cabai. Saat ini sentra produksi komoditi cabai Ciamis terdapat di sejumlah kecamatan, seperti Kecamatan Sukamantri, Panumbangan, Panjalu, Sindangkasih, Kawali dan Lumbung.

Menanggapi semakin banyaknya permintaan ekspor cabai, Bupati Caiamis, Engkon Komara mengatakan hal tersebut perlu mendapat apresiasi tersendiri dari kalangan petani. Dia juga mengatakan sampai saat ini Ciamis juga masih belum bisa memenuhi permintaan dari sejumlah produsen makanan yang banyak membutuhkan cabai.

”Ini merupakan kabar yang menggembirakan, sekaligus juga tantangan apakah mampu memenuhi peluang yang sudah terbuka itu. Jawabannya juga bisa dikembalikan lagi ke petani, pemerintah tentunya juga akan selalu mendukung,” tuturnya. (A-101/das)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/130457

3. Panen Cabe Gagal akibat Cuaca Ekstrem
Rabu, 29 Desember 2010 | 17:08 WIB
fotoPetani cabai rawit merawat kebunnya agar terhindar dari penyakit di Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. TEMPO/Prima Mulia

TEMPO Interaktif, Jakarta -Menteri Pertanian Suswono mengatakan tingginya harga cabai saat ini merupakan akibat dari prediksi cuaca oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika yang sering meleset. Akibatnya produksi tanaman cabai menurun.

“Pada awal 2010 prediksi BMKG bulan April kemarau, ternyata hujan. Lalu diprediksi lagi Juli kemarau ternyata hujan juga. Akibatnya, banyak petani menanam tanaman hortikultura dan palawija seperti cabe, bawang tidak hasilkan secara optimal,” ujarnya saat memaparkan Prospek Pembangunan Pertanian 2011, di kantornya, Rabu (29/12).

Menurut Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Hassanuddin Ibrahim, permasalahan tingginya harga cabai hanya terjadi di tingkat pedagang, sedangkan harga di tingkat petani hanya sekitar Rp 20 ribu per kilogram. “Di pasar harganya bisa lebih tinggi jadi Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu. Kenaikan seperti ini selalu ada karena jika musim hujan cabai menjadi cepat busuk,” katanya dalam kesempatan yang sama.

Menurut Hassanuddin, ada empat faktor penyebab harga cabai semakin melambung tinggi. Pertama, tanaman cabai merupakan komoditas yang cepat membusuk jika terkena hujan terus menerus. Kedua, biaya transportasi menjadi mahal saat hujan turun karena terjebak kemacetan. Dan ketiga, bunga bank yang relatif tinggi sehingga petani cabai sulit mendapatkan modal. “Terakhir banyaknya pungutan liar dalam proses pengiriman tanaman cabai sehingga biaya yang dibebankan juga mahal,” katanya.

Dia menyebutkan, permintaan benih cabai tahun ini sebanyak 1,3 juta ton. Ini menjadi patokan jumlah produksi cabai, namun tak semua benih tersebut berhasil panen akibat cuaca. Konsumsi rata-rata cabai secara nasional tahun ini 1,2 juta ton. Untuk tahun depan ia menargetkan produksi cabai mencapai 1,45 juta ton. “Harusnya masih bisa surplus namun karena
iklim buruk sehingga tidak tercapai,” katanya.

Untuk menjamin produksi cabai terpenuhi sesuai target, dia menyiapkan beberapa langkah. Yaitu, dengan melakukan kerjasama swasta membangun cold storage (ruangan pendingin) agar kesegaran cabai tetap terpelihara dan daya simpan lebih lama. “Lalu dengan shading net (tenda naungan) untuk melindungi tanaman cabai dari curah hujan yang tinggi,” ujarnya.

Langkah selanjutnya adalah menggalakkan program pertanian cabai di pekarangan perkotaan. “Tanam cabai itu kan gampang, kita galakkan gerakan tanam cabai di rumah oleh para ibu-ibu, sehingga bisa lebih diatur kadar hujannya,” katanya.

Menteri Suswono mengaku saat ini penelitian dan pengembangan kementerian Pertanian masih terus mengembangkan varietas benih unggul tanaman cabai. “Kami juga sudah siapkan penyuluh agar lebih dekat dengan petani dan bisa menjadi jembatan komunikasi antara petani dan pemerintah,” ujarnya.  ROSALINA.

http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2010/12/29/brk,20101229-302514,id.html

4.  Harga Cabe tak terbendung

03/01/2011 17:23
Liputan6.com, Purwakarta: Pusing dan kaget, itulah yang dialami sebagian besar warga yang belanja di Pasar Rebo, Purwakarta, Jawa Barat, Senin (3/1). Bayangkan, harga cabai rawit merah mencapai Rp 100 ribu per kilogram dari sebelumnya hanya Rp 50 ribu per kilogram. Demikian pula cabai keriting yang kini menjadi Rp 60 ribu, bawang merah Rp 18 ribu, dan tomat Rp 8.000 per kilogram.

Para pedagang mengatakan pasokan berkurang karena cuaca yang tak menentu. Pembeli pun menjerit, sedangkan pedagang mengeluh karena omzet mereka turun sampai 40 persen.

Sementara di Pasar Raya Padang, Sumatra Barat, kondisinya tak beda jauh. Cabai merah dijual Rp 75 ribu, melambung dari sebelumnya Rp 20 ribu per kilogram. Tak hanya cabai, harga bawang, beras, dan minyak goreng juga naik. Pasokan yang kurang masih menjadi penyebab utama melonjaknya harga sembako.

Tingginya harga pangan membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar mewaspadainya karena bisa menjadi kendala pertumbuhan ekonomi tahun 2011. Data Badan Pusat Statistik menyebutkan inflasi tahun 2010 sebesar 6,96 persen. Sumbangan terbesar dari bahan makanan, terutama beras, cabai merah, bawang merah, dan nasi dengan lauknya.(ADO)

http://berita.liputan6.com/ekbis/201101/314204/Harga.Cabai.Tak.Terbendung

5. Lonjakan Harga Cabe terus Menggila

JAKARTA. Lonjakan harga cabai yang terjadi semenjak Desember 2010 semakin menggila. Berdasar pantauan KONTAN, harga cabai merah keriting di pasar-pasar tradisional Jakarta pekan ini telah menembus Rp 80.000 per kilogram (kg). Harga ini melonjak sekitar empat kali lipat dibanding harga normalnya, yakni Rp 18.000-Rp 22.0000 per kg.

Adapun harga cabai rawit hijau pekan ini sekitar Rp 70.000 per kg. Sementara harga cabai rawit merah lebih pedas lagi, yakni mencapai Rp 100.000 per kg.

Wakil Menteri Pertanian Bayu Krishnamurti mengatakan, lonjakan harga bumbu favorit masyarakat Indonesia ini akibat berkurangnya pasokan cabai dari petani di Banyuwangi, Jember, Kediri, Brebes, dan Sragen yang gagal panen akibat gangguan cuaca.

“Produksi cabai di daerah sentra cabai itu turun 20%- 30% karena serangan hama patek yang membuat buah cabai busuk. Hama ini merebak karena udara lembab saat panen Desember lalu,” kata Bayu, Selasa (4/1). Tingginya curah hujan juga membuat bunga cabai berguguran.

Celakanya, harga si pedas ini akan kian edan-edanan di awal tahun ini. Pasalnya, menurut ramalan BMG, puncak curah hujan baru akan berlangsung akhir Maret 2011.
Bisa dipastikan, kondisi ini akan mengganggu panen cabai. Panen cabai terdekat dimulai akhirJanuari ini, seperti di Tasikmalaya, Sukabumi, dan Brebes. Tingginya curah hujan kemungkinan membuat panen di beberapa sentra tersebut tak akkan mampu meredam gejolak harga cabai.

Apalagi, tanda-tanda gagal panen sudah terlihat. “Dua minggu lalu hama patek mulai menyerang Jawa Barat. Saya ragu panen cabai Januari bisa bagus,” kata Ketua Umum Agribisnis Cabai Indonesia Dadi Sudiyana.

Tapi, lain halnya dengan pemerintah yang tetap berharap, panen bulan ini bisa menurunkan harga cabai. “Mudah-mudahan bisa menambah pasokan,” ujar Bayu.
Dadi mengatakan, jika panen di Jawa Barat memang bagus, sangat mungkin kenaikan harga cabai bisa diredam. “Tapi kalau tidak, harga akan tetap melambung,” ucapnya

http://industri.kontan.co.id/v2/read/industri/55725/Lonjakan-harga-cabai-masih-terus-menggila

6. Tahun 2010 kenaikan harga cabe capai 127 %
Senin, 03 Januari 2011 | 16:33 WIB
TEMPO/Seto Wardhana

TEMPO Interaktif, Jakarta – Badan Pusat Statistik Jawa Barat mencacat kenaikan harga cabai di pasaran untuk cabai merah besar mencapai 102 persen sedangkan untuk cabai rawit mencapai 127 persen. Kenaikan ini didorong permintaan yang tinggi dan musim hujan sepanjang tahun ini. “Trennya sudah terasa sejak lebaran lalu,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik Jawa Barat, Lukman Ismail, di Bandung, Senin (3/1).

Pada bulan Desember ini, kenaikan harga cabai menyumbang inflasi yang paling besar dibandingkan beras yang merupakan komoditas utama masyarakat. Inflasi Jawa Barat sendiri pada bulan Desember mencapai 0,73 persem. Inflasi ini disokong kenaikan kelompok bahan makanan yang mencapai 2,17 persen.

Untuk cabai sendiri andil inlasi terhadap kelompok bahan makanna 0,28 persen untuk cabai merah dan 0,12 persen cabe rawit. “Cabai bukan kebutuhan pokok seperti beras, tapi permintaannya sangat tinggi. Apakah masyarakat harus mengurangi konsumsi cabainya ?”

Lukman menambahkan, dari pantauan BPS di 7 Kota di Jabar pada Desember ini, kenaikan harga cabai merah mencapai 60 persen sedangkan harga cabai rawit mencapai 65 persen.

Secara keseluruhan inflasi gabungan Jawa Barat pada tahun 2010 ini mencapai 6,62 persen sedangkan pada tahun 2009 lalu inflasi gabungan mencapai 2,02 persen. Dalam setahun ini hanya sekali Jawa Barat mengalami deflasi, yakni  pada bulan Maret lalu dengan minus 0.19 persen. “Kemungkinan (inflasi) trennya akan tetap tinggi untuk produk pertanian karena anomali cuaca,” ujarnya.

Produksi cabai merah Jawa Barat tahun 2009 mencapai 209 ribu ton dengan luas area lahan 16 ribu hektar. Sedangkan untuk cabai rawit 106 ribu ton dengan area lahan 7849 hektar. Data sampai bulan Oktober lalu, jumlah panen cabai merah mencapai 175 ribu ton. Rata rata produksi cabai per hektarnya mencapai 126,80 kilogram per hektar.

ALWAN RIDHA RAMDANI   http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/01/03/brk,20110103-303398,id.html

7. Cabe naik pangkat ,rasa dan harga sama pedasnya

Sabtu, 08 Januari 2011, 06:54 WIB

Cabai Naik Pangkat, Rasa dan Harga Sama Pedasnya

Cabai Merah

REPUBLIKA.CO.ID,Cabai merah dan rawit yang diyakini masyarakat bisa menggugah selera makan, mendadak menjadi bahan pembicaraan utama tak hanya di kalangan ibu rumahtangga dan pedagang, tetapi juga para menteri bahkan presiden, karena harganya melejit dalam tempo yang relatif singkat. Setelah harga cabai anjlok pascalebaran di kisaran Rp13.000/kilogram, bumbu masak tersebut lalu merambat naik menjadi Rp40.000 dan dalam tempo yang tidak terlalu lama melonjak menjadi Rp60.000, bahkan kemudian mencapai rekor yang belum pernah terjadi selama ini, Rp100.000.

Pada pertengahan Desember 2010, Imas berbelanja di pasar Depok Baru, Jawa Barat. Ketika sampai di kios sayuran milik Atik, dia bertanya, “Harga cabai sekarang berapa, mbak? Kalau beli eceran minimal boleh berapa?”.

Menurut si pemilik kios, harga cabai saat itu sudah mencapai Rp60.000 per kg dan jika Imas mau membeli secara eceran, paling kurang Rp2.000. “Itu-pun hanya dapat empat biji saja. Harga cabai naik terus, bu.”

Di Kediri, Jawa Timur, cabai busuk akibat hama yang biasanya dibuang, saat ini laku dijual dengan harga Rp15.000 per kg. Di masa-masa lalu, harga cabai memang pernah beberapa kali melonjak, biasanya menjelang Lebaran dan musim penghujan, tetapi paling tinggi hanya mencapai Rp40.000 per kg dan umumnya krisis seperti itu segera berlalu, karena cabai bukan tergolong bahan makanan pokok.

Kali ini harga cabai terus meroket, seolah tak terkendali, sehingga Warto, pedagang sayuran di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, hanya mau mengecer cabai paling sedikit Rp5.000 untuk sekitar 10 biji. “Bingung saya jualan cabe, asal kembali modal saja sudah syukur. Kasihan juga sama pembeli,” katanya.

Kepala Badan Pusat Statistik Jawa Barat, Lukman Ismail, mengungkapkan, di wilayahnya kenaikan harga cabai merah besar di pasaran mencapai 102 persen, sedangkan untuk cabai rawit tercatat 127 persen. Menurut dia, kenaikan ini didorong permintaan yang tinggi dan musim hujan sepanjang tahun. “Trennya sudah terasa sejak Lebaran lalu,” ujarnya seraya menambahkan bahwa cabai merah memiliki andil inflasi terhadap kelompok bahan makanan 0,28 persen dan cabai rawit 0,12 persen.

Lukman menambahkan, dari pantauan BPS di tujuh kota di Jabar pada bulan Desember, kenaikan harga cabai merah mencapai 60 persen, sedangkan harga cabai rawit 65 persen. “Cabai bukan kebutuhan pokok seperti beras, tapi permintaannya sangat tinggi. Barangkali masyarakat perlu mengurangi konsumsi cabai,” katanya.

Produksi cabai merah Jawa Barat tahun 2009 tercatat 209 ribu ton dari luas areal 16 ribu hektare. Sedangkan untuk cabai rawit 106 ribu ton dengan areal 7.849 hektare. Data sampai bulan Oktober 2010, jumlah panen cabai merah mencapai 175 ribu ton. Rata-rata produksi cabai per hektare mencapai 126,8 kilogram.

Gerakan tanam cabai
Cabai, sejenis bahan bumbu bewarna merah dan rasanya pedas, tiba-tiba saja ‘naik pangkat’ dari pasar induk sayur yang becek dan kumuh ke suatu sidang kabinet paripurna, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan para menteri ekonominya untuk menangani masalah cabai. Usai sidang, Presiden memerintahkan Menteri Pertanian Suswono untuk meneliti peluang adanya bibit unggul baru cabai.

Hal itu dimaksudkan agar bisa lebih cepat berproduksi dan tahan perubahan cuaca serta metode penanamannya. Kepada Menteri Perdagangan, Presiden memerintahkan agar mencari sistem distribusi yang efektif, karena ditengarai tata niaga cabai terlalu panjang. Kelancaran pasokan cabai ke pasar akan menekan lonjakan harganya.

Apa gerangan yang membuat harga si merah keriting yang pedas ini melambung tinggi tak terkendali? Menurut Wakil Menteri Pertanian, Bayu Krisnamurthi, cuaca yang ekstrim dan tidak menentu memicu kenaikan harga cabai hingga 20 persen. “Cabai merupakan komoditas pangan yang tidak tahan lama sehingga tidak bisa disimpan saat musim hujan karena akan busuk,” katanya sambil menambahkan bahwa kenaikan harga cabai saat ini, bukan disebabkan gagal panen melainkan iklim yang masih esktrim yang menurunkan produktivitas.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengakui, untuk menangani lonjakan harga cabai susah. “Tidak banyak yang bisa kita lakukan karena ini masalah kerusakan pada produksi yang disebabkan hama dan cuaca,” ujarnya. Dari sisi perdagangan, pemerintah fokus supaya tidak ada gangguan dalam distribusi cabai. Sementara dari aspek produksi, Kementerian Pertanian (Kementan) akan menjaganya dari penyakit supaya tidak busuk akibat hujan.

Mari juga membantah penyebab kenaikan harga cabai karena aksi penimbunan. “Tidak ada spekulasi atau penimbunan cabai. Cabai tidak bisa ditimbun karena lama-kelamaan akan busuk,” katanya.
Selain itu, Mendag menyeru masyarakat agar menjaga ketahanan pangan, salah satu caranya dengan menanam cabai di halaman masing-masing.

Terkait dengan ajakan tersebut, Menteri Pertanian Suswono menyebutkan bahwa gerakan massal menanam cabai di halaman penduduk akan dimulai dari Lampung, Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat. “Pemerintah akan memberikan bibit cabai gratis dan sudah menyiapkan anggarannya. Gerakan ini dilakukan pada 2011. Lebih awal lebih baik dan dimotori oleh tim penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga serta Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu,” ujarnya.

Saat ini, menurut dia, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian sedang menyusun langkah-langkah yang akan dilakukan untuk gerakan awal yang melibatkan 100 ribu kepala keluarga. Gerakan menanam itu pada dasarnya melibatkan anggota keluarga dan memanfaatkan lahan-lahan pekarangan sempit di perumahan karena cabai adalah jenis tanaman yang mudah tumbuh baik langsung di tanah maupun menggunakan pot.

“Kami juga akan melakukan langkah antisipasi, tanaman ini kan baru tiga bulan kemudian menghasilkan. Ketika sudah menghasilkan sebetulnya dalam satu sampai dua tahun bisa panen terus. Oleh karena itu nanti kira-kira tiga bulan sebelum Lebaran misalnya, gerakan ini akan lebih diintensifkan lagi,” tuturnya.

Untuk tanaman massal cabai ini Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan, pihaknya akan membangun sistem pengamanan proses budidaya cabai yang dapat bertahan dari cuaca ekstrim dan ganguan hama. “Kami sudah meminta Kementerian Pertanian untuk mencari pola penanaman cabai yang tahan terhadap perubahan cuaca eks-trim dan hama,” ujarnya.

Permintaan tersebut tampaknya sudah direspon oleh Kementerian Pertanian, karena Suswono mengaku instansinya telah melakukan penelitian dan perlindungan terhadap tanaman cabai agar tidak busuk. Gerakan massal menanam cabai boleh jadi merupakan salah satu langkah penanganan kenaikan harga cabai, masalahnya aksi ini belum dimulai dan memerlukan waktu dari persiapan hingga panen paling tidak sekitar empat bulan.

Agaknya, sambil menunggu panen cabai, harus ada langkah darurat lain yang lebih cepat dan efektif, mungkin dari Kementerian Perdagangan, untuk mengendalikan harga cabai. (Illa Kartila)

Red: Krisman Purwoko
Sumber: ant

http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/ekonomi/11/01/08/157293-cabai-naik-pangkat-rasa-dan-harga-sama-pedasnya

8. Cabai oh Cabai

Minggu, 9 Januari 2011 | 00:46 WIB

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Harga cabai rawit yang melambung tinggi menjadi berkah bagi Bambang Hariyanto (21), petani muda di Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur, Selasa (4/1). Dari lahan seluas sekitar 800 meter persegi yang dimilikinya, Bambang mampu memanen cabai rawit sebanyak 3 kuintal. Harga cabai rawit di tingkat petani mencapai Rp 80.000 per kilogram.

Oleh Ade P Marboen

Saat makanan menjadi kehilangan rasa, apalagi yang bisa menebus kehilangan rasa itu?

Bukannya mau bersikap pesimistis, namun penggemar rasa pedas kini sedikit berduka karena harga cabai menjulang tinggi sekali, bisa mencapai Rp140.000 sekilogram!

“Mau apa lagi? Kalau mau rasa pedasnya seperti biasa pembeli harus bayar lebih. Jadi terpaksa tambah lada sedikit atau campur bawang putih. Cabai rawit di Pasar Badung sudah Rp85.000 sekilo,” kata Seno, penjaja bebek goreng, ayam goreng, dan pecel lele di depan RS Puri Bunda, Denpasar.

Jurus Seno dan ketiga temannya mengakali rasa pedas di warung tendanya cukup jitu.

Ulekan lada dipadu bawang merah dan tomat mengoplos cabe sudah cukup mengobati kerinduan para pecinta rasa pedas walau tidak mungkin menyamai rasa pedasnya cabai asli.

Berjualan semalam dari petang hari, Seno perlu tiga kilogram cabai keriting dan satu kilogram cabai rawit. Hingga Agustus tahun lalu, modalnya untuk membeli pengobat rindu penggemar rasa pedas itu masih terjangkau. “Sekarang? wah, tidak sanggup lagi. Kok bisa mahal sekali ya?,” kata pemuda asal Banjarnegara, Jawa Tengah itu.

Juni 2010, katanya, harga cabai segala jenis mulai merangkak naik dari Rp20.000 menjadi Rp25.000 per kilogram. Sejak itu harga tidak pernah turun lagi dan menjadi lebih parah dengan “rekor” sampai Rp100.000 per kilogram, sebab hujan lebat tiada putus membuat cabai busuk di kebun-kebun petani.

Cerita sama juga dikatakan Johny, pemilik Manado 88, satu rumah makan masakan Manado terkenal di Bali. Siapa yang tidak paham rasa pedas hampir semua jenis menu makanan asli Manado? “Keadaan cukup sulit untuk bisa seperti dulu lagi. Kami juga sulit menaikkan harga masakan lebih tinggi lagi,” kata lelaki yang telah puluhan tahun merantau di Bali itu.

Ironis, Bali yang berpenduduk empat juta jiwa dan dianugerahi tanah sangat subur juga kelimpahan air, namun senantiasa kekurangan bahan pangan terutama sayuran dan buah-buahan. Itu sebabnya banyak sekali komoditas hortikultura itu harus diseberangkan dari Pulau Jawa.

Akan halnya kenaikan harga cabai (Capsicum annuum, Linneaeus) itu terjadi di Kalimantan, yang diberitakan mencapai Rp140.000 per kilogram, mungkin orang bisa memaklumi karena kualitas kesuburan tanah dan ketersediaan air di sana tidak sebaik di Pulau Jawa atau Pulau Bali.

Manusia diberi akal-budi untuk bisa bertahan hidup dan itu juga yang terjadi untuk menyiasati kenaikan harga cabai. Di Pasar Badung dan Pasar Kereneng, Denpasar, sebagaimana juga terjadi di Pasar Gianyar, cabai-cabai hampir busuk yang biasanya tidak dilirik kini laku keras.

Harga cabai oplosan dengan yang hampir busuk itu juga masih lumayan mahal, antara Rp40.000 dan Rp80.000 sekilogram. “Mau apa lagi? Yang penting murah dan tidak bikin sakit perut,” kata Seno.

Begitulah cerita tentang cabai di Tanah Air yang katanya kaya-raya, tempat di mana tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Sejak belasan tahun lalu, hampir setiap hari raya agama atau musim hujan, harga komoditas hortikultura selalu bergerak naik dengan banyak alasan, mulai dari busuk di kebun, angkutan tidak lancar, sampai aksi ambil untung secara keterlaluan oleh spekulan.

Cabai mengandung asam kapsikum yang menciptakan rasa pedas di lidah bagian tengah. Kandungan asam kapsikum yang juga bisa meningkatkan produksi asam lambung di perut manusia ini, paling banyak terdapat di bagian bijinya dan bukan pada kulit buah atau tangkai buahnya.

Semakin tua cabai itu didukung lingkungan cukup kering, maka kandungan asam kapsikum di dalam bijinya semakin meningkat; hal ini penyebab cabai rawit asal NTT lebih pedas ketimbang rekannya asal Jawa Barat.

Kandungan asam organik tanaman yang satu keluarga dengan kentang itu juga berpelurus kandungan asam askorbat yang bahan utama vitamin C.

Kini rasa pedas cabai itu semakin menggigit karena kenaikan harga cabai di pasar tradisional secara nasional ikut memicu kenaikan laju inflasi pada saat pemerintah pusat tengah berbangga hati tingkat pertumbuhan ekonomi meningkat. Kalau tidak segera diatasi bisa membuat “sakit perut” pemerintah dan rakyat Indonesia.

Terdapat satu aliran asumsi pengamatan kemakmuran satu masyarakat, yaitu dengan mengamati secara langsung tingkat kemakmuran itu di kalangan masyarakat menengah-bawah. Biasanya, kelas masyarakat inilah yang mengisi lebih dari dua pertiga populasi suatu negara, tidak ubahnya di Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mempunyai risalah ilmiah tersendiri soal kenaikan harga cabai ini, yang mencatat kenaikan harga cabai dan beras selama Juni 2010 telah mendorong kenaikan inflasi bulan itu hingga mendekati satu persen.

“Harga cabai merah naik 45,7 persen selama Juni 2010 dibandingkan Mei 2010 dengan bobot 0,69 persen dalam inflasi total, jadi menyumbang 0,26 persen atau tertinggi sumbangannya dalam inflasi Juni 2010 yang 0,97 persen,” kata Kepala BPS, Rusman Heriawan, di Jakarta, beberapa masa lalu.

BPS mencatat inflasi pada Juni 2010 sebesar 0,97 persen, yang jika diurut mundur hingga Januari 2010 mencapai 2,42 persen sementara periode yang sama tahun sebelumnya mencapai besaran 5,05 persen. Heriawan menjelaskan, beras mengalami kenaikan harga sebesar 2,67 persen selama Juni dibandingkan Mei 2010, namun pengaruhnya perhadap inflasi cukup besar yaitu 4,42 persen.

Sumbangan kenaikan harga beras terhadap inflasi sebesar 0,13 persen dari inflasi total Juni yang sebesar 0,97 persen. “Tidak ada satupun kelompok harga yang mengalami deflasi,” katanya.

Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan yaitu 3,2 persen, kedua makaanan jadi, minuman dan rokok sebesar 0,41 persen, perumahan, air, dan listrik 0,23 persen meski Tarif Dasar Listrik (saat itu) belum dinaikkan.

Saat mengumumkan hal ini, BPS memperkirakan target inflasi 2010 yang dipatok pemerintah dan Bank Indonesia meleset, dengan target inflasi selama 2010 sekitar lima persen plus-minus satu persen. “Inflasi ini di atas target BI sebesar lima persen plus-minus satu,” kata Heriawan di Jakarta, menjelan akhir tahun 2010 lalu.

Jika pada semester perdana 2010 inflasi tercatat 2,42 persen, maka selama 11 bulan pertama 2010, angka itu meningkat hingga ke angka  5,98 persen dan “year on year” mencapai 6,96 persen. Bahkan, untuk November saja, laju inflasi telah mengejutkan bank sentral, yang diakui Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution, semula inflasi November diperkirakan di bawah 0,5 persen, ternyata malah 0,6 persen.

Khusus untuk harga cabai, ternyata sayuran pedas ini memberi sumbangan signifikan terhadap laju inflai pada Desember 2010 lalu. “Sampai 0,33 persen,” kata Heriawan.

Wakil Menteri Pertanian, Bayu Krisnamurthi, berkomentar tentang hal itu yang dikatakan dia sebagai hal biasa. “Cabai merupakan barang pokok yang dikonsumsi masyarakat Indonesia dan tidak bisa disimpan lama. Kalau musim hujan, produksi turun, dan mudah busuk. Ini kasihan petaninya, baru senang sedikit sudah hujan,” katanya.

Namun bagi Seno dan banyak sekali warga lain Indonesia, harga barang-barang yang melambung terlalu tinggi dan tidak terjangkau, makin menjerat kehidupan mereka. “Jangan mikir punya tabungan sekarang ini, bisa sedikit di atas modal saja sudah bagus,” katanya.

Seno, sebagaimana halnya Johnny sebetulnya membantu tugas pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Walau digolongkan ke dalam kelas usaha gurem yang dihaluskan menjadi mikro, namun secara swadaya dengan tidak menikmati suntikan Kredit Usaha Rakyat dari bank, mereka bisa melaksanakan aktivitas ekonomi yang memberi efek pengganda tertentu kepada lingkungannya.

Kenaikan harga barang-barang jelas menjadi hal sangat sentitif bagi rakyat. Rakyat memakai logikanya sendiri dan memberi penilaian sangat sederhana kepada keberhasilan satu pemerintahan negara, yaitu kenaikan harga barang sebagai ukuran.

Bukankah hal-hal seperti ini, mulai dari arus mudik, musim liburan, jemaah haji, dan lain sebagainya selalu berulang dengan pola mirip dari tahun ke tahun?

http://oase.kompas.com/read/2011/01/09/00461665/Cabai.Oh.Cabai-3

9.  Harga Cabe di Cirebon masih tinggi
Ekonomi – / Sabtu, 8 Januari 2011 12:42 WIB

Metrotvnews.com, Cirebon: Harga cabai rawit di pasar tradisional di Cirebon, Jawa Barat, masih tinggi dan di atas harga cabai merah karena pasokan agak menipis. Seorang pedagang sayur di Pasar Kanoman Cirebon Masfufah, Sabtu (8/1), mengatakan harga cabai rawit masih bertahan Rp60 ribu per kilogram dan belum ada tanda-tanda akan turun.

Kendati harga tinggi, cabai rawit tetap tersedia di pasaran. Sedangkan konsumen biasanya membatasi kebutuhan akan cabai rawit. “Kumsumen pada saat normal mungkin akan membeli setengah kilogram, tetapi sekarang rata-rata dibawah dua ons,” katanya.

Sementara itu, harga cabai merah keriting masih bertahan Rp50 ribu per kilogram atau masih dibawah harga cabai rawit. Sedangkan cabai merah besar harganya lebih rendah, yakni Rp35 ribu per kilogram.

Menurut dia, baik cabai rawit, cabai merah keriting dan cabai merah besar pada umumnya dipasok dari daerah dataran tinggi Kuningan, dan sebagian lagi dari Kabupaten Cirebon. Di pihak lain, harga bawang merah mulai bergerak naik yang baisanya hanya Rp13 ribu per kilogram, kini menjadi Rp15 ribu per kilogram.

Mengenai harga bawang merah tersebut biasanya sangat dipengaruhi panen di sentra bawang merah di Losari (Jabar) dan Brebes (Jawa Tengah). Kalau kedua daerah sentra tersebut sedang panen, maka harga bawang merah di Cirebon akan turun.

Komiditas lain, seperti bawang putih, buncis, tomat, wortel, kacang panjang, kentang dan kubis harga masih stabil. Harga bawang putih di Pasar Kanoman dipatok dan Rp26 ribu per kilorgam, buncis Rp8 ribu per kilogram, tomat Rp6 ribu per kilogram, wortel Rp5,5 per kilogram, kacang panjang Rp8 ribu per kilogram, kentang Rp8 ribu per kilogram dan kubis Rp5 ribu per kilogram.(Ant/DOR)

http://www.metrotvnews.com/ekonomi/news/2011/01/08/38902/Harga-Cabai-di-Cirebon-masih-Tinggi

10. Cabai dalam Pot, pedas dan menguntungkan

Sabtu, 8 Januari 2011 | 11:02 WIB

Kalau saja ada pertanyaan, tanaman apa yang paling berpengaruh di Indonesia? Jawabnya, pasti: cabai. Memang, harga cabai beberapa waktu terakhir menjadi sentra heboh nasional bahkan menyebabkan inflasi. Nah, ada cara mudah menekan inflasi itu: tanam cabai dalam pot.

Seorang kawan yang baru saja membeli sebungkus mi goreng, ngomel-ngomel tak karuan. Katanya sambil nggrundel, “mosok dikasih lombok cuma sakndhil (sebiji, Red), cik medhite.” Dia melanjutkan, “nek duwe lombok ojok dibuang, kene tak pek’e.”

Kawan yang lain menimpali. Dia mengatakan, penjual-penjual makanan, saat ini memang pelit-pelit akan cabai, maklum saja harga cabai sedang gila-gilaan. Harga cabai di berbagai daerah rata-rata sudah di atas Rp 50 ribu per kilogram, bahkan ada yang tembus Rp 100 ribu per kilogram.

Iya, lho… sekarang di pasar, beli cabe Rp 1.000 sudah nggak boleh. Mereka (penjual cabai, Red) jualnya bijian, beli Rp 1.000 cuma dapat 3 biji,” ujarnya. “Enaknya, mungkin nanam cabe sendiri aja. Cabe kan bisa ditanam dalam pot, ditaruh (halaman) depan rumah, nanti kalau butuh tinggal petik,” lanjut kawan yang ibu rumah tangga itu.

Ya, tepat sekali ucapan kawan yang terakhir itu. Untuk menekan harga cabai nasional, pemerintah memang menganjurkan masing-masing rumah tangga di Tanah Air menanam cabai di dalam pot. Salah satunya adalah Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Forum Koordinasi Pengendali Inflasi (FKPI) Jawa Barat merekomendasikan agar setiap warga Jawa Barat mulai menanam cabai dalam pot untuk memenuhi kebutuhannya masing-masing. “Dulu kita kenal, istilahnya warung hidup,” kata Koordinator FKPI yang juga Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Fery Sofwan Arif usai rapat forum itu di Bandung, Rabu (5/1) lalu.

Kepala Dinas Pertanian Jawa Barat Endang Suhendar mengatakan, untuk kebutuhan rumah tangga, cukup menanam cabai dalam 3 pot saja. Tanaman itu, jelasnya, bisa dipanen terus menerus setelah berumur 3 bulan selama 9 bulan masa tanam cabai.

Endang mengatakan, kondisi kenaikan cabai ini, justru tidak dinikmati petani. Dari pantauannya, harga tanaman itu dari tangan petani terakhir hanya Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu per kilogram.

Soal kenaikan cabai sendiri, dia menduga disebabkan oleh faktor distribusi, faktor psikologi masyarakat yang panik. “Kalau panik berapa pun dibeli, tapi petani belum tentu diuntungkan,” kata Endang.

Di Jawa Barat sendiri sentra cabai berada di wilayah Priangan Timur, di antaranya di Ciamis, Tasikmalaya, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, serta Majalengka. Luas lahan tanaman cabai di Jawa Barat sekitar 10 ribu hektare, dengan produktivitas rata-rata 10 ton per hektarenya.

 

Tahan Cuaca Ekstrem

Tak sekedar menganjurkan budidaya cabai dalam pot, pemerintah juga mengupayakan sitem budidaya cabai yang tahan cuaca ekstrem. Maklum saja, kondisi cuaca yang tidak menentu hampir sepanjang tahun 2010 lalu, ditengarai sebagai salah satu faktor penyebab krisis cabai nasional.

“Kami sudah meminta Kementerian Pertanian untuk mencari pola penanaman cabai yang tahan terhadap perubahan cuaca ekstrem dan hama,” ungakp Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa, di Jakarta, Rabu, (5/1).

Ditemui usai menghadiri rapat tentang transportasi yang dipimpin Wakil Presiden Boediono, ia mengatakan, melambungnya kembali harga cabai di pasaran terutama disebabkan perubahan cuaca yang ekstrem. “Pengaruh cuaca berdampak pada pola tanam hingga distribusi. Produksi berkurang, padahal kebutuhan tetap tinggi,” kata Hatta.

Meski begitu, lanjut dia, Pemerintah tidak bisa melakukan intervensi seperti operasi pasar bagi beras dan minyak goreng. “Cabai ini berbeda dengan beras dan minyak. Jadi tidak ada cara lain kecuali meningkatkan produksi cabai,” tuturnya.

Hatta menambahkan, pada APBN 2011 pemerintah menganggarkan dana ketahanan pangan sebesar Rp 3 triliun. Dana ini akan digunakan untuk menambah cadangan beras sebesar Rp 1 triliun, stabilisasi harga pangan Rp1 triliun, dan ketahanan pangan Rp 1 triliun.

Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengungkapkan, hasil penelusuran lapangan Kementerian Pertanian (Kementan) menunjukkan, penyebab lonjakan harga cabai tidak terlepas dari masalah tingginya curah hujan yang berkepanjangan sebagai imbas dari cuaca ekstrem.

Bayu mengungkapkan pada Desember, produksi cabai di Banyuwangi, Jember, Kediri, Brebes, dan Ciamis turun 20-30 persen. “Penyebabnya hama patek, ini berkembang karena udara lembab, hujan lebat membuat bunganya rusak,” katanya.

Oleh karena itu, menurut dia, ke depan Kementan akan mengamankan proses budi daya cabai di tingkat “on farm” atau produksi dengan memberikan bantuan “shading sheet” atau layar pelindung. Program tersebut, tambahnya, diharapkan mampu melindungi tanaman dari cuaca buruk maupun serangan hama dan penyakit pada tanaman cabai.

 

Bibit Cabai Gratis

Produksi cabai nasional tahun lalu menurun sekitar 30 persen akibat musim hujan, sementara harga cabai nasional meroket gila-gilaan. Tak ayal pemerintah pun dibuat jadi kalang kabut. Salah satu tengaranya, pemerintah begitu royal menggelontor masyarakat dengan program-program pembudidayaan cabai.

Selain kampanye tanam cabai dalam pot dan pengembangan sistem budidaya cabai tahan cuaca ekstrem, pemerintah juga meluncurkan program pembagian bibit cabai gratis untuk memuluskan gerakan menanam cabai secara massal. Dalam tahap awal, Kementan memilih tiga daerah sebagai sasaran gerakan ini yaitu, Lampung, Banten dan Jawa Barat.

Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan harga karena penyebab yang sama, tahun ini. Adapun untuk menyukseskan gerakan tersebut, Kementan akan menggandeng PKK dan Solidaritas Istri Kabinet dan beberapa organisasi petani. “Kita akan memberikan bibit gratis,” kata Menteri Pertanian Suswono, kepada wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (6/1).

Karena cabai relatif mudah ditanam, Suswono juga mengimbau masyarakat untuk menanam cabai di pekarangan masing-masing. “Kalau masyarakat mau mengurangi konsumsi cabai, otomatis harga ini akan kembali turun,” katanya.

Tak hanya pemerintah, sektor swasta pun turut andil untuk menekan harga cabai di pasaran melalui program pembagian bibit gratis. Pengelola Rumah Makan Saung Rakit di Jalan Siliwangi Ciamis Jawa Barat berpromosi dengan memberikan bonus khusus bagi pengunjung rumah makan lesehan khas Sunda tersebut.

Pengunjung, terutama ibu-ibu akan mendapat buah tangan spesial. Seusai menyantap hidangan di rumah makan tersebut, ibu-ibu diberi polybag berisi benih cabai rawit untuk dibawa ke rumah masing-masing. “Mudah-mudahan benih atau bibit cabai rawit tersebut oleh ibu-ibu ditanam di pekarangan rumahnya,” ujar Joni Eka R, pemilik RM Saung Rakit.

Menurut Joni, di lahan-lahan kosong sekitar rumah makan yang dikelolanya tersebut kini ditanami berbagai tanaman organik seperti ganyong, tomat, cabai tw hingga cabai rawit. “Biji cabai rawit sisa masakan kami semai jadi benih. Benih yang sudah tumbuh dan cukup besar dimasukkan ke dalam polybag dan dibagikan kepada pengunjung rumah makan,” katanya.

Bonus khusus berupa benih cabai rawit ini, menurut Joni, merupakan upaya membantu ibu-ibu untuk meningkatkan potensi halaman rumahnya yang kosong, sekaligus solusi ketika harga cabai rawit yang harganya semakin mahal. “Sekarang harga cabai rawit sampai Rp 60.000 per kilogram (kg). Luar biasa mahal, bikin ibu-ibu kebingungan,” ujar Joni.

Jelas, menanam cabai, khususnya di dalam pot, saat ini bakal menjadi kegiatan yang sangat menguntungkan. Paling tidak, bisa menekan anggaran belanja rumah tangga. Tapi, kalau mau dikomersilkan juga bisa, mumpung harga cabai sedang mahal-mahalnya. Nah kalau begitu, menanam cabai, yuukkk…... ins

http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=9782a97d125055790263486252f42675&jenis=e4da3b7fbbce2345d7772b0674a318d5

Ternyata berita tentang Cabe atau Cabai sangat  buanyak sekali di berbagai mass media bahkan bisa bertahan cukup lama menjadi topik hangat pemberitaan. Bagi kita sendiri permasalahan ini menjadi sesuatu yang menarik , produk yang “biasa-biasa” saja seketika bisa menjadi “luar biasa”. Itulah Penomena kehidupan, semua bisa terjadi dan semua bisa berubah. Barangkali penting untuk dicermati bersama, agar kedepan kita bisa mengantisipasi permasalahan dengan tepat. Karena ternyata masyarakat kecil kita yang menjadi korban dari setiap kenaikan harga barang-barang pokok, sudah seharusnya Pemerintah mulai meningkatkan pengawasan harga bahan pokok yang lebih mementingkan Masyarakat Kecil. Kementrian terkait dan Instansi terkait sudah seharusnya mengevaluasi dampak kenaikan-kenaikan harga termasuk cabe, kemudian diharapkan adanya langkah kongkrit yang seirama untuk memperbaiki keadaan sebenarnya. Kita tidak bisa menyalahkan dampak Cuaca ekstrem dan dampak letusan Merapi, tetapi kita seharusnya sudah memiliki strategi  ketika dampak negatif dari situasi yang terjadi. Jangan biarkan petani Cabe akhirnya dirugikan dengan impor cabe dari luar negeri, jangan biarkan hasil bumi kita terlindas hasil bumi negara lain. Waspada dampak perdagangan Global terhadap nasib para petani kita, yang notabene harus terus diperhatikan. Semoga kejadian-kejadian melonjaknya harga bahan pokok akan menjadi hal penting dalam mendorong dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Penyunting : Halimi,SE,MM.

Pos ini dipublikasikan di Artikel, Hotnews dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s