Menagih Hak Hidup Transportasi Tradisional

Nasib Dokar Jatingaleh

image

PARA pelajar memanfaatkan dokar. (Foto CyberNews/iss)

Oleh Bambang Iss

KETIKA pemerintah kota Semarang menggalakkan program Car Free Day di berbagai tempat, mestinya yang harus bersorak gembira adalah kaum sais atau kusir dokar. Masalahnya, disamping sepeda, hanya trasportasi dokarlah yang paling cocok untuk mendukung program sehari tanpa emisi itu.

Ya, dokar atau andhong patut untuk berlega hati, karena dengan program yang sedang jadi fenomena masyarakat perkotaan itu, dokar bakal masih punya hak hidup di masyarakat.

Di kota Semarang yang juga tengah digalakkan program hari bebas emisi itu, ada secuil hak hidup dokar yang masih tersisa, yakni di kawasan Jatingaleh. Persis di pertigaan Kesatrian. Di sinilah ada beberapa dokar yang mangkal untuk melayani rute Kesatrian – Jangli yang berjarak 1,2 km.

Alat trasportasi kereta berkuda ini masih dianggap efektif bagi sebagian warga di kawasan Semarang atas. Meski di sana juga tersedia trasportasi ojek atau becak, tapi masyarakat masih punya ketergantungan dengan dokar.

Buktinya banyak warga atau pelajar yang secara berombongan atau sendiri-sendiri menggunakan dokar. Dengan hanya Rp 2.000 (tarif normal) dan Rp 1.000 (tarif pelajar), para kusir dokar ini tetap menjalankan transporasi itu dengan nyaman dan tenang.

Tidak merasa tersaingi dengan adanya ojek sepeda motor dan becak? “Kami sama sekali tidak terganggu, rejeki orang itu kan sendiri-sendiri, buktinya sampai sekarang kami rukun-rukun saja dengan tukang ojek atau tukang becak,” kata Mus, salah seorang sais dokar di Kesatrian yang ditemui Suara Merdeka CyberNews Selasa (4/1).

Di Kesatrian, Jatingaleh, kini terdapat sekitar 10 buah dokar. Inilah sisa laskar dokar kota Semarang yang masih ada. Dokar-dokar itu diwakli seorang kusir, masing-masing Mustakim, Slamet, Mbah Wito, Mus, Mukri, Warto, Ngadi dan beberapa yang lain.

Secara kepemilikan, diantara mereka, ada beberapa yang meliki dokar dan kuda sendiri, tapi ada juga yang menjalankan  dokar milik orang lain. yang terakhir ini, “Saya harus setor ke juragan Rp 30 ribu perhari,” kata Mustakim yang merasa berat dengan setoran itu. “Karena saya harus memberi makan kuda setiap hari sampai Rp 20 ribuan,” kata Mustakim.

Untuk memberi makan kuda, para sais itu harus membeli rumput, dedak dan air. Untuk mekanan kuda, biasanya harus disediaka sekitar 4 atau 5 kg untuk sekali makan. “Bahan-bahan makanan ini ada yang menyetok, dan kami membelinya,” kata Mus.

Bengkel Ambarawa.

Mereka, para sais itu mengeluhkan tingginya setoran. Belum lagi, seperti kata Mustakim, kalau dokarnya rusak. “kami tidak bisa memperbaiki sendiri, kerusakannya harus kami bawa ke bengkel. di Ambarawa. Kalau rusaknya roda, bisa sampai Rp 300 ribu,” kata dia.

Benarkah nasib dokar hidup enggan mati tak mau? Pendapat ini tampaknya terlalu skeptis, karena ternyata para sais ini masih setia menekuni profesinya sebagai tukang pengendali kuda, sehingga kelangsungan hidup dokar masih ada.

Di Kesatrian, Jatingaleh, adalah satunya-satunya kawasan yang masih menghidupkan trasportasi ini. Sebelumnya ada di kawasan mangkang dna Mranggen, taoi sekarang sudah terhantikan oleh ojek motor dan angkota.

Mus, bahkan sudah lebih dari 15 tahun menjadi sais di Kesatrian. Apalagi Mbah warto yang merupakan kusir paling tua di antara kusir-kusir itu. Mereka hidup rukun di “terminal” Jatingaleh atau pun “terminal” Jangli.

Para penlanggan mereka adalah anak-anak sekolah, para bakul, atau ibu-ibu rumah tangga. Yang paling menggembirakabn kalau mereka menerima order carteran. Misalnya, ornag ingin ke tenmoat wisata Water Blaster yang terletak di Jangli. “Kami biasa memasang tarif Rp 50 ribu sekali jalan,” kata Mus.

Itu sebabnya, para sais dokar ini minta agar bisa dibuka akses antar jemput ke Water Blaster. “Kalau ini bisa terlaksana, wah alangkah gembiranya kami,” kata Mus tertawa. Persoalannya ia bersama teman-teman sais lainnya tidak punya “nyali” mengusulkan ke pemilik Water Blaster. padahal mereka juga ini menjadi alat transporasti dokar wisata.

(Bambang Iss/CN25)

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/layar/2011/01/04/746/Menagih-Hak-Hidup-Transportasi-Tradisional

Pos ini dipublikasikan di Berita, Hotnews dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s