Berbisnis dengan Manfaatkan Bahan Daur Ulang-Ir H Choirul Ichsan

image

Semarang, CyberNews. Bahan daur ulang hingga kini belum dilirik seseorang dalam menghasilkan barang kreatif atau handycraft. Namun, di tangan Ir H Choirul Ichsan, barang yang umumnya sudah tidak terpakai, disulap menjadi barang berharga dan berdaya tarik tinggi.

“Meski dari bahan daur ulang, tapi tidak membuat barang yang dihasilkan, berkualitas rendah. Saya mengutamakan proses produksi yang cermat dan dilakukan oleh para tenaga yang terampil,” kata pria kelahiran Semarang, 20 Juli 1968 itu.

Kiat usaha itu ia lakukan karena melihat harga bahan-bahan produksi kerajinan tangan belakangan ini, cukup mahal. Supaya bisa memanfaatkan barang lokal, maka siasat yang dilakukan yakni menggunakan barang daur ulang. “Ini juga bisa menekan biaya produksi dan membuat barang dagangan, menjadi lebih murah harganya, tetapi tetap bisa bersaing di pasar lokal, nasional, bahkan internasional,” ungkapnya.

Ya, tak hanya dijual di tataran lokal saja. Tapi, dia telah berhasil menembus ketatnya pasar handycraft dan asesoris kelas nasional. Beberapa negara asing juga sudah menjadi jujugan produknya.

Hasilnya, omzet penjualan “CV Multi Cipta” tiap tahun meningkat sekitar 15-20 persen. Tak heran jika selama 13 tahun, lulusan S1 Teknik Sipil Untag Semarang itu telah berhasil memiliki aset usaha hingga Rp 4 miliar. Padahal, Ichsan hanya membutuhkan modal awal usaha Rp 14 juta.

Sebetulnya, Ichsan merupakan satu dari ribuan orang yang menjadi korban impitan krisis moneter 1997 lalu. Awalnya, dia menjadi karyawan di suatu perusahaan kontraktor.

Saat krisis moneter melanda Indonesia, usaha kontraktor milik bosnya pun menjadi goyang. Akhirnya, ia memutuskan untuk keluar. Belajar dari peristiwa itu, terbersit keinginan untuk mendirikan usaha. “Tapi saat itu, saya berupaya mendirikan usaha yang benar-benar fresh dan kreatif. Ini semata-mata untuk menghadapi persaingan usaha yang amat ketat,” ungkapnya.

Sebelum mendirikan usaha, ia hunting berbagai jenis usaha. Dari situ, ia mempelajari mengenai kiat-kiat usaha yang ia temui. Satu-persatu, barang produksi hingga bentuk packaging, ia lihat dengan seksama. Hasilnya, semuanya ia modifikasi utnuk menghasilkan barang kerajinan yang bisa dibilang cukup kreatif.

Untuk mempertahankan loyalitas pelanggan dan menarik konsumen baru, ia pun memberikan ekstra pelayanan, yakni konsultasi dan pendampingan kepada beberapa orang yang akan memiliki hajat atau suatu pesta. “Ini semata-mata demi kepuasan pelanggan. Jika sudah demikian, mereka pun mau kembali membeli di tempat saya,” tuturnya, Senin (13/12).

Dia menambahkan, tidak mau mengikuti tren persaingan yang kurang sehat belakangan ini. Harga yang ia berlakukan, tetap standar dengan para pesaing usaha sejenis. “Perang harga justru membuat kondisi persaingan tidak kondusif. Sebab, usaha handycraft kan membuat kreasi, jadi justru harus saling bertukar pikiran,” tandasnya.

Ichsan mengaku, justru sangat senang menularkan jiwa kewirausahaannnya, terutama kepada generasi muda. Karena itulah, ia termotivasi ikut organisasi profesi wirausaha. Ini juga sebagai upaya menambah jaringan. Bagi pengusaha, semakin banyak jaringan, semakin meningkatkan omzet penjualan,” ujar Bendahara Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Semarang.

(Hadziq Jauhary/CN13)

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/layar/2010/12/13/731/Berbisnis-dengan-Manfaatkan-Bahan-Daur-Ulang

Pos ini dipublikasikan di Artikel, Berita, Hotnews dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s