Angka Kriminalitas Anak di Cirebon Meningkat

Illustrasi Kenakalan ana-anak-Google

Illustrasi Kenakalan ana-anak-Google

CIREBON, (PRLM).-Angka kriminalitas dengan pelaku anak dibawah umur di wilayah Cirebon, dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Selama tahun 2010, untuk wilayah Cirebon yang meliputi Kota dan Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, Majalengka dan Indramayu, tercatat ada 167 kasus yang pelakunya adalah anak di bawah umur.

Menurut Kepala Balai Pemasyarakatan (Bapas) kelas I Cirebon M. Drais Sidik, jumlah kasus sebanyak itu hanya yang tercatat di Bapas. “Kasus sebanyak itu hanya kasus yang dimintakan penelitian masyarakat atau litmas oleh polisi kepada Bapas. Sementara sebagian kasus yang ringan-ringan biasanya tidak dimintakan litmasnya sehingga tidak tercatat,” kata Drais Senin (3/1).

Angka kriminalitas sebanyak itu, katanya, meningkat dari tahun sebelumnya. “Angka peningkatan memang tidak signifikan, tetapi kecenderungan naik,” katanya didampingi Kasi Bimbingan Klien Anak Eris Rastiyah.

Dikatakan Drais, kasus sebanyak itu didominasi kasus pencurian yang mayoritas penyebabnya karena faktor ekonomi.

Ada juga kasus pencabulan sesama anak bahkan narkoba. “Untuk kasus pencabulan, sudah divonis oleh majelis hakim sampai 4 tahun penjara,” paparnya.

Melihat kecenderungan itu, Drais menilai, wilayah Cirebon sudah mendesak untuk memiliki lembaga pemasyarakatan (lapas) anak.

Lapas anak diperlukan, karena meskipun ada pembinaan, namun anak tetap masih memerlukan kedekatan dengan orang tua, untuk keseimbangan psikologi anak.

Selain Lapas khusus anak, di lembaga penegak hukum di wilayah Cirebon juga memerlukan ruang khusus untuk anak. Seperti ruang pemeriksaan khusus anak di kepolisian, kejaksaan dan ruang sidang khusus anak di pengadilan.

Saat ini, semua Polres dan Kejaksaan Negeri di wilayah Cirebon belum memiliki ruang khusus untuk anak, yang menjamin kenyamanan psikologis anak saat memberikan keterangan.

Sedangkan untuk ruang sidang khusus anak, baru Pengadilan Negeri Indramayu dan Kuningan yang sudah efektif menggunakan ruang sidang khusus anak. “Padahal khusus kasus anak, Undang Undang mengamanatkan agar semua berpihak untuk kebaikan anak, karena anak kan masih memiliki masa depan yang panjang,” jelasnya.

Selain kendala ruang khusus, kendala lain yang tidak kalah pentingnya yakni kurangnya kepedulian aparat penegak hukum saat menangani kasus kriminal anak di bawah umur. “Seperti misalnya pemeriksaan anak di kepolisian yang tidak melibatkan Bapas. Polisi baru meminta litmas kepada Bapas, saat BAP sudah jadi, hanya sekedar untuk melengkapi persyaratan administrasi sebelum dilimpahkan ke kejaksaan. Atau mayoritas majelis hakim yang cenderung memilih pertimbangan jaksa dalam memberikan putusan perkara, ketimbang penelitian masyarakat yang dilakukan Bapas,” katanya.

Menurut Drais, dalam melihat kasus kriminal dengan pelaku anak di bawah umur, jangan hanya dilihat dari satu aspek saja yakni akibat. Tetapi, lanjutnya, aspek lain yakni sebab bagaimanapun harus menjadi pertimbangan utama. “Meskipun satu sisi, anak adalah pelaku, namun di sisi lain dia adalah korban kegagalan pendidikan orang tua atau lingkungan atau ekonomi,” ucapnya.

Sehingga, lanjutnya, perlu kesamaan visi antarlembaga penegak hukum dalam menangani perkara kriminal yang melibatkan pelaku anak-anak. (A-92/kur)***

Sumber dari http://www.pikiran-rakyat.com/node/131313

Pos ini dipublikasikan di Berita, Hotnews dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s